Assalamualaikum wr wb
Sungai Mahakam merupakan salah satu sungai yang masuk dalam deretan kategori sungai terpanjang, terbesar di Indonesia. Warga kalimantan mana suara nya!!!! Kalimantan Timur khusus nya.
Salah satu dari beberapa keistimewaan sungai mahakam adalah keberadaan Orcaella Brevirostris hewan mamalia air tawar yang mana di dunia hanya ada di tiga sungai, tiga sungai gan and sist!!. yaitu sungai mekong (sungai yang aliran air nya dari tibet mengalir melintasi negara cina, Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja dan Vietnam), Sungai irrawaddy dan terakhir adalah sungai kita tercinta mahakam.
Namun sayang nya mamalia air tawar kerabat lumba lumba atau kita menyebutnya pesut ini masuk dalam kategori satwa yang terancam punah di Indonesia dan ironis nya lagi status terancam punah itu menempati urutan tertinggi. Jadi Gimana dong???
Nah sebelum pesut benar benar hilang tak tersisa di telan bumi rugi rasanya kalau kamu enggak lihat langsung dengan mata telanjang (jangan pakai kacamata gelap maksudnya) keberadaan pesut di alam liar nya. Padahal telah ada sebuah komunitas yang memfasilitasi teman teman yang pengin melihat pesut secara langsung di alam nya. Lokasi untuk dapat melihat pesut pun enggak terlalu jauh bagi teman teman yang berdomisili di wilayah Samarinda, apalagi yang di tenggarong malah semakin dekat dan semakin dekat lagi bagi yang berdomisili di wilayah kecamatan kota bangun. Yup... dapat di ambil kesimpulan di kecamatan kota bangunlah keberadaan pesut yang sering kali muncul sehingga di wilayah ini kita dengan mudah dapat melihat aktivitas pesut secara langsung di alam nya dengan menyusuri sungai atau anak sungai Mahakam ke arah hilir.
Soal biaya juga enggak mahal mahal amat cuma 150 ribu perorang untuk jasa transportasi ketinting, 30-50ribu perorang untuk penginapan satu malam dan uang konsumsi yang besaran nya tergantung pada sesering apa kita makan
Lalu
Seru gak sih?
Aman gak sih?
Apa manfaat nya?
Aman gak sih?
Apa manfaat nya?
Mungkin tiga pertanyaan mendasar itu ada dalam benak teman teman. Oke deh saya akan menjawab tiga pertanyaan itu dengan cara saya yaitu dengan berbagi pengalaman saya selama mengikuti trip pesut mahakam pada beberapa waktu yang lalu.
Oke cekidot
Awal mengikuti trip ini gue merasa kayak orang hilang, kok bisa? Bisa, karena gue enggak kenal dengan satupun dari seluruh peserta trip waktu itu. Plonga plongo saat gue baru tiba di point area pertama seluruh peserta trip berkumpul yaitu di bukit biru tenggarong. Meskipun gue bukan orang asli kalimantan tapi kalimantan membuat gue merasa asli jadi orang indonesia dan hal terpenting adalah soal cinta terhadap lingkungan, satwa dan fauna wajib hukum nya bagi setiap warga negara Indonesia di manapun berada. Al hasil setelah gue mengetahui program trip yang di share di facebook oleh komunitas pencinta pesut Mahakam gue pun mendaftar sebagai peserta terakhir nyaris hampir kedepak jika terlambat sedikitpun karena quota yang di sediakan tidak dapat memenuhi calon peserta yang membludak ikut pada saat itu. Di sinilah kisah dramatis dan keharuan gue di mulai.
Start and let's go.....!!!
Setelah seluruh peserta berkumpul di point area pertama, briefing pun di mulai, di pimpin langsung oleh bang Innal rahman selalu tour guide yang menurut pandangan gue saat itu dia adalah sesepuhnya. Memperkenalkan diri masing masing secara bergantian karena pepatah bilang tak kenal maka tak sayang, suasana pun mencair. Semenjak itu lah gue merasa gue bukan orang hilang. Karena gue sudah di kenal dan di sayang haha. Merencanakan rute perjalanan dan tempat tempat singgahan sekaligus mengatur tempat duduk di kendaraan roda empat. Spesial nya pada saat itu adalah kehadiran bapak Anthony selaku orang pemerintahan dari dinas pariwisata provinsi kalimantan timur bersama satu rekan nya. Menurut penuturan bang innal biasanya perjalanan menuju kota bangun menggunakan kendaraan motor pribadi (masing masing maksudnya) biar greget, namun di karenakan kehadiran beliau bapak anthony membuat kami yang berkendarakan motor beralih berkendarakan mobil karena tersedia nya beberapa kursi kosong.
Yah... Sedikit berkurang nih rasa my trip my adventurenya. Hanya peserta yang menumpangi bak mobil strada yang saat itu benar benar merasakan greget nya my trip my adventure. Terpanggang terik matahari di siang bolong dan menjelma menjadi orang orang berkepala sarung.
Yah... Sedikit berkurang nih rasa my trip my adventurenya. Hanya peserta yang menumpangi bak mobil strada yang saat itu benar benar merasakan greget nya my trip my adventure. Terpanggang terik matahari di siang bolong dan menjelma menjadi orang orang berkepala sarung.
Tiba di wisata air terjun Kandua raya, kedang ipil...
Sekitar satu jam perjalanan mobilpun menepi dari jalan raya guna melaksanakan solat dhuhur di salah satu mushola yang ada di situ sekaligus mengisi kampung tengah di salah satu warung warga. Selesai, mobil pun melanjutkan perjalanan masuk ke jalan yang kanan kirinya penuh oleh kelapa sawit beberapa menit kemudian tibalah rombongan kami di tempat wisata air terjun kandua raya di kedang ipil kecamatan kota bangun. Waktu menunjukkan pukul 13.30 waktu yang pas untuk mendingin kan badan dengan air yang mengalir langsung dari alam nya. Bercengkerama tak lupa berselfie ria cekrek sana cekrek sini, editing kemudian enter dan foto pun ter uplud biar narsis. Gue banget nih. Satu lagi air langsung dari alam nya ialah air aren yang bisa kami beli dari warga sekitar seketika warga mengambil air dari pohonnya. Ini nih yang sekaligus membangkitkan Energi energi positif dalam tubuh. Segaaar mantaaaaap....
Keindahan sore di martadipura....
Mobil melaju menerabas angin, di dalam nya kami bercengkerama ria. Efek habis kena air langsung dari alam nya hehe... Selain itu juga karena gue satu mobil dengan bang innal kali ya, yang rada koplak. Sementara matahari perlahan kian tenggelam di peristirahatannya. Siang beranjak sore terang sebentar lagi meredup kemudian gelap. Nah proses meredup menuju gelap inilah momen yang pas banget saat kalian berada di jembatan martadipura sembari menyaksikan hobi pemuda pemuda menggeber geber kuda besi nya di aspal jembatan martadipura, puluhan jumlah nya. Sementara kondisi jalanan jembatan yang lurus beberapa kilo meter panjang nya adu dragpun sering terjadi. Yang pasti satu moment yang enggak boleh di lewat kan adalah pertunjukan keindahan tata cahaya langit oleh sang mahakarya yang semua orang sepakat menyebut nya sunset in martadipura, sangat indah di jadikan background untuk foto bersama maupun berselfie ria. Di jembatan ini kalian juga bakal menjumpai ratusan pemuda pemudi ramai memadati tepi tepi jalan raya jembatan di sore hari.
Kami lelah,,, go to penginapan......
Lokasi nya tak jauh, sepuluh menit perjalanan dari jembatan martadipura kami pun tiba di salah satu penginapan yang terletak di kecamatan kota bangun. Mobil terparkir rapi di halaman depan penginapan, bergantian kami menurun kan barang barang pribadi kami dari mobil memindahkan nya ke kamar kamar penginapan yang sebelum nya telah di atur siapa siapa penghuni setiap kamar nya supaya setiap kamar di isi oleh penghuni homogen dalam hal kelamin. Mengantre untuk dapat giliran mandi, sebagian selagi menunggu yang menjadi pilihan tepat adalah menikmati kopi atau teh hangat sembari menikmati semilir udara malam di ruang terbuka belakang penginapan. Melaksanakan ibadah wajib kemudian dengan berjalan kaki bersama sama kamipun bertolak ke salah satu warung tak jauh dari penginapan. Memilih menu santap malam sesuai selera masing masing, terhidang dalam sebuah meja yang kami melengkari di pinggir nya sembari bercanda gurau menjadi selingan di sela sela santap malam kami.
Berbagi cerita....
Beruntunglah jika lau berada di dekat orang orang yang memiliki banyak pengalaman sementara kita tidak memiliki pengalaman itu, seolah dengan nyata kau akan merasakan hal hal baru meskipun hanya mendengar nya dari sebuah cerita. Begitulah mungkin kira nya perasaan yang gue rasain saat berada satu kamar dengan abang abang berpengalaman dalam dunia trip khusus nya. Teman baru adalah menjadi salah satu yang terpenting yang harus loe dapetin di mana pun loe berada. Malam semakin larut tak menghentikan gue dan abang abang sekamar gue untuk bertukar pengalaman, banyak hal yang gue dapat karena latar belakang, hobi dan cita cita kami yang tak sama alias berbeda. Mulai dari mendapat pengalaman cerita tentang backpacker keliling ke beberapa negara sekaligus dengan perjuangan perjuangannya dan cerita cerita menarik di dalam nya yang membuat gue termotivasi untuk mencoba. Tips tips berbackpacker yang simple nan mudah dan tak lupa pengetahuan pengetahuan baru soal orcaella brevirostris langsung dari penuturan abang abang berpengalaman yang telah berkali kali mengikuti trip pesut sekaligus member komunitas save pesut mahakam. Entah cerita apa yang mengakhiri malam kami, terlelap dengan sendiri nya dalam balut selimut tebal yang kami gunakan bertiga plus angin hembusan Ac dan kipas angin membuat gue benar benar lupa. Hingga tersadar disaat malam telah menjemput pagi. Jadi temukan teman baru mu!.
Landscape pagi sungai mahakam.
Hooaaaammm..... Menguap di pagi hari, terbangun oleh alarm Handphone yang saling bersaut sautan dalam sebuah kamar ukuran tiga kali empat meter. Suara azan terdengar melalui toa toa yang terpancang pada menara menara masjid di sekitaran penginapan kami. Pagi belum terang sempurna langit menjelang jingga dari kegelapan, saatnya bergantian menunaikan ibadah solat subuh di musholla kecil yang terdapat di penginapan. Brrr,,,, angin dan air terasa dingin serasa menusuk nusuk tulang. Langkah langkah kaki terdengar sempurna melalui lantai yang terbuat dari papan, sebuah tanda satu persatu dari kami telah bangun dari mimpi nya, beranjak dari kasur keluar kamar ke kamar mandi tentunya. Saat Langit mulai menjingga saat itulah moment yang pas banget nongkrong di ruang terbuka belakang penginapan sembari menikmati udara pagi, landscape sungai mahakam dan tentunya seduhan sesuai selera yang sudah tersedia di dapur penginapan. Jika beruntung, Loe bisa lihat langsung aktivitas pesut dari ruang terbuka penginapan yang mengarah langsung ke sungai, namun sayang nya waktu itu gue dan kawan kawan belum beruntung. Justru yang nampak malah kapal kapal pengangkut sembako yang barangkali berangkat kemarin sore dari dermaga Samarinda dan pagi hari berikutnya baru melintas di kecamatan kota bangun sementara tujuan nya masih jauh ke melak sono. Sembari menunggu matahari beranjak sempurna dari peristirahatannya kami pun mengisi waktu pagi dengan bersantai, mengobrol sekaligus berdiskusi ringan dan tak lupa sarapan pagi bermenukan nasi kuning. Pagi yang berkesan....
Loading passenger and let's go....
Ayo ayo... Sembari berjalan mondar mandir melintas pintu pintu kamar, bang innal memberi instruksi agar seluruh peserta segera bersiap karena sebentar lagi ketinting akan datang dan bersandar di dermaga bawah penginapan yang berdampingan dengan helikopter alias wc umum terapung terbuat dari kayu. Beberapa menit kami mendengar arahan dan penjelasan dari bang innal atau briefing istilah nya di ruang tunggu dermaga. Kemudian setelah nya satu persatu peserta naik ke atas ketinting secara bergantian sesuai dengan hasil pengaturan bangku penumpang dalam dua buah ketinting. Mengenakan rompi pelampung sebagai upaya keselamatan, ya meskipun jumlah pelampung tak mencukupi jumlah peserta maka yang tak bisa berenang menjadi prioritas. Semoga kedepan jumlah pelampungnya memadai, amiin.... Tapi jangan khawatir karena jalur yang kita telusuri merupakan jalur transportasi sungai yang sering di lalui oleh ketinting ketinting nelayan maupun warga.
Ngeng ngeng ngeng..... Mesin ketinting yang di kemudikan oleh pengemudi yang telah tersertifikasi yaitu om darwis dan satu rekan nya akhirnya menyala, ini lah momen yang gue tunggu tunggu karena apa lagi kalau tidak ingin segera melihat aktivitas pesut langsung di alam nya.
Oke siap??? Siaaaaaaapppp...
Come on and let's goooo......
Ketinting pun melaju membelah ombak ombak kecil sungai alias riak air, sejuknya angin pagi menerpa wajah kami tak terkecuali juga percikan percikan air sungai yang seringkali terhempas enggak karuan di udara. Ketinting terus melaju atas komando bang innal yang duduk di ujung depan bagian ketinting bak kapten kapal perang sembari pandangan nya menghambur ke sungai agar dengan cepat memberi isyarat ke pengemudi ketinting untuk menurunkan laju kecepatan ketika mendapati aktivitas pesut yang timbul tenggelam di atas permukaan air. Sementara kami tak mau kalah, maka siap siaga dengan kamera masing masing turut mengamati permukaan sungai. Di sana!!! Tertangkap pandangan bang innal sekawan pesut kurang lebih tiga puluh kilo meter dari ketinting sedang bermain main di atas permukaan air sedangkan kami yang tak berpengalaman sering kali kalah cepat menemukan pesut. Mata lensa kamera sibuk mengarahkan sudut lensa, sejurus kemudian jari jari sibuk menekan tombol camera. Cekrek cekrek cekrek bersaut saut demi memperoleh gambar yang di inginkan. Pesutpun seketika menjelma bak model kelas internasional. Beruntung bagi gue saat itu yang baru tiga puluh menit menyusuri sungai sudah menemukan sekawanan pesut, karena menurut penuturan tour guide susah susah gampang menemukan pesut bahkan pernah dalam sekali trip tak menemukan sama sekali. Di atas ketinting pun kita bisa memperoleh manfaat edukasi dari penjelasan tour guide mengenai pesut, seperti bagaimana menghimpun data jumlah pesut melalui bentuk sirip, bagaimana sistem kehidupan pesut, cerita legenda pesut, interaksi pesut dengan manusia/masyarakat sekitar atau bahkan sebaliknya kita yang mengajukan pertanyaan. Ketinting masih terus melaju berbelok sembilan puluh derajat ke kiri memasuki anak sungai di salah satu kecamatan muara kaman di sinilah waktu itu beberapa kali kami menjumpai sekawan pesut yang sedang berenang ke hilir yang menurut penuturan tour guide sedang mencari makanan. Selain daripada pesut juga terdapat satwa satwa lain yang terkadang nampak di pinggir pinggir sungai atau pohon pohon pinggir sungai seperti sekawan bekantan, burung kuntul, elang ikan kepala kelabu, dan kengkareng perut putih.
Ngeng ngeng ngeng..... Mesin ketinting yang di kemudikan oleh pengemudi yang telah tersertifikasi yaitu om darwis dan satu rekan nya akhirnya menyala, ini lah momen yang gue tunggu tunggu karena apa lagi kalau tidak ingin segera melihat aktivitas pesut langsung di alam nya.
Oke siap??? Siaaaaaaapppp...
Come on and let's goooo......
Ketinting pun melaju membelah ombak ombak kecil sungai alias riak air, sejuknya angin pagi menerpa wajah kami tak terkecuali juga percikan percikan air sungai yang seringkali terhempas enggak karuan di udara. Ketinting terus melaju atas komando bang innal yang duduk di ujung depan bagian ketinting bak kapten kapal perang sembari pandangan nya menghambur ke sungai agar dengan cepat memberi isyarat ke pengemudi ketinting untuk menurunkan laju kecepatan ketika mendapati aktivitas pesut yang timbul tenggelam di atas permukaan air. Sementara kami tak mau kalah, maka siap siaga dengan kamera masing masing turut mengamati permukaan sungai. Di sana!!! Tertangkap pandangan bang innal sekawan pesut kurang lebih tiga puluh kilo meter dari ketinting sedang bermain main di atas permukaan air sedangkan kami yang tak berpengalaman sering kali kalah cepat menemukan pesut. Mata lensa kamera sibuk mengarahkan sudut lensa, sejurus kemudian jari jari sibuk menekan tombol camera. Cekrek cekrek cekrek bersaut saut demi memperoleh gambar yang di inginkan. Pesutpun seketika menjelma bak model kelas internasional. Beruntung bagi gue saat itu yang baru tiga puluh menit menyusuri sungai sudah menemukan sekawanan pesut, karena menurut penuturan tour guide susah susah gampang menemukan pesut bahkan pernah dalam sekali trip tak menemukan sama sekali. Di atas ketinting pun kita bisa memperoleh manfaat edukasi dari penjelasan tour guide mengenai pesut, seperti bagaimana menghimpun data jumlah pesut melalui bentuk sirip, bagaimana sistem kehidupan pesut, cerita legenda pesut, interaksi pesut dengan manusia/masyarakat sekitar atau bahkan sebaliknya kita yang mengajukan pertanyaan. Ketinting masih terus melaju berbelok sembilan puluh derajat ke kiri memasuki anak sungai di salah satu kecamatan muara kaman di sinilah waktu itu beberapa kali kami menjumpai sekawan pesut yang sedang berenang ke hilir yang menurut penuturan tour guide sedang mencari makanan. Selain daripada pesut juga terdapat satwa satwa lain yang terkadang nampak di pinggir pinggir sungai atau pohon pohon pinggir sungai seperti sekawan bekantan, burung kuntul, elang ikan kepala kelabu, dan kengkareng perut putih.
Santap siang di rumah apung....
Kurang lebih 3.5 jam melakukan perjalanan kami pun berhenti di salah satu warung sekaligus rumah terapung warga di desa tunjungan tepat pukul 12.30 guna Isoma. Makan bersama dengan menu mie Instan merupakan sebuah pengalaman sekaligus cerita yang menarik bagi gue. Gmana kagak menarik, lah Wong masak nya masak sendiri di saat perut di buru lapar sementara fasilitas nya terbatas. My trip my adventure jadi kerasa semakin greget. Saat perut sudah kenyang berbaring sejenak di atas rumah apung adalah pilihan tepat atau bersantai di tepi rumah sembari merendam kaki ke dalam air sungai yang dingin.
Cagar budaya lesong batu di gunung brubus
Sembari melakukan perjalanan pulang kembali ke penginapan kurang afdol rasa nya kalau enggak mampir ke cagar budaya lesong batu sekaligus melihat prasasti tujuh Yupa yang menurut sejarah merupakan tertua di Indonesia, widiiihh... Hanya memarkir ketinting di tepi sungai dan beberapa menit berjalan kaki kami pun sampai. Enggak hanya sekadar lihat macam orang lagi survei kami pun melakukan aksi bersih bersih di sekitar wilayah cagar budaya. Tak lupa di cagar budaya ini pun tour guide tetap memberikan penjelasan penjelasan mengenai sejarah dan apa pun yang ada di cagar alam lesong batu.
Indah nya sunset di atas ketinting....
Kurang lebih enam jam adalah waktu yang kami habis kan di atas ketinting dari perjalanan pergi dan pulang. Hari menjelang magrib saat kami menginjakkan kaki di dermaga awal, namun sebelum nya menyaksikan sunset di atas sebuah ketinting adalah pengalaman yang menakjubkan sayang bila di lewatkan dengan tidak mengabadikan sebuah foto baik hanya sekadar pemandangan atau bahkan kita juga turut di dalam nya. Melintas di bawah jembatan martadipura menjelang magrib sementara matahari perlahan terbenam di belakang nya salah satu background alam yang harus loe dapat dalam foto pribadi loe.
Dua hari melakukan trip sudah cukup memuaskan hati terlebih jika pesut yang di harap muncul, justru muncul berkali kali sehingga tak mengecewakan mata yang selama seumur hidup tak pernah melihat pesut secara langsung. Hikmah yang bisa gue ambil setelah melihat pesut secara langsung ialah gue gak lagi repot repot berkhayal pesut yang sesungguhnya itu gimana sih saat melihat patung pesut yang terdapat di depan kantor gubernur tepian mahakam, wk wk wk
Terimakasih kepada seluruh teman teman dan crew......
oiya foto di bawah ini bukan hasil dari jepretan ku ya. aku mengambilnya tanpa izin di facebook, hehe
yang jepret bang innal dan adji
Komentar