Langsung ke konten utama

28 Oktober 1928

28 OKTOBER 1928
Jika kau melihat tanggal tersebut yang ter lintas pasti peringatan hari sumpah pemuda Indonesia. Benar bukan? Saat para pemuda republik ini telah muak oleh jajahan, muak oleh penindasan, muak menjadi budak di tanah yang melahirkan mereka sendiri, bersatu dalam satu tujuan kemudian menyerukan 3 ikrar penggelora jiwa, pembangkit semangat perjuangan pemersatu bangsa Indonesia, 3 ikrar yang sakral itu sungguh luar biasa, bagaimana tidak 3 ikrar itu telah mampu membhineka tunggal ika kan negeri ter cinta ini, menggelegar ke seantero pelosok pelosok negeri. negeri yang pulau nya tak mampu aku menghitung, negeri yang budaya nya beratus ratus, bahasanya apa lagi. Lantang di ucap, hingga bulu kuduk pun tak mampu menolak untuk tidak berdiri. Ber tumpah darah yang satu, berbangsa yang satu, berbahasa kesatuan yang satu bahasa indonesia. Ayo lah kawan coba kau ucap itu dengan lantang cam kan baik baik di kepala mu. Tengok lah diri mu tatap dalam dalam mata mu pada cermin, kau adalah seorang pemuda pemudi bangsa Indonesia kawan. Pemuda pemudi bangsa yang telah di ambil sumpah nya untuk negeri tercinta Indonesia Raya.
28 oktober1928 tanggal itu terukir pada pelat persegi yang telah usang di salah satu sudut bangunan tua ini. Saat itu aku perlu mendongak kan kepala untuk melihat nya usia ku masih di bawah kepala satu. Tanggal itu adalah tanggal kelahiran bangunan tua ini, bangunan yang berdiri di saat pemuda negeri ini tengah bersumpah, bangunan yang berdiri di saat semangat perjuangan pemuda negeri ini meluap luap meletup letup bak gunung yang akan meledak di seantero negeri. Entah mengapa mata ku terus saja meratapi pelat itu sulit rasa nya berpaling, pikir an ku terbawa ke alam masa lalu, aku tak mengerti mengapa bangunan ini berdiri, untuk apa? Hati ku terus bertanya, beribu beribu menerka, membuat kemungkinan. Pasti bangunan ini adalah markas para kolonial rakus, kejam, tanpa ampun terhadap penduduk desa glenmore, atau bangunan ini adalah bangunan yang menjadi naungan antara 2 negara yang sedang bermanipolitik, berusaha keras berkilah, ber darah darah, mencapai kemerdekaan bagi Indonesia dan berusaha keras ber politik licik bagi Belanda. Bagaimana pun, usaha apa pun yang di lakukan, belanda tak pernah setuju dan sudi indonesia merdeka. Bangunan ini menjadi saksi bisu terhadap segala upadaya para kolonial menjajah desa glenmori entah berapa banyak sudah muslihat muslihat kejam nan licik yang telah di rencanakan di dalam bangunan ini.
Namun itu ber puluh puluh tahun yang lalu kini bangunan iini se olah ingin menebus kesalahan nya ia tau tak seharusnya ia berdiri untuk Belanda. Andai saja ia bisa berbicara, dan berontak saat itu mungkin ia tidak akan berdiri. Selalu roboh seketika di bangun. Namun seolah ia juga tau ia berdiri untuk mengabdi pada bumi pertiwi di masa mendatang. Maka memilih lah ia untuk berdiri. Hukum alam telah berbicara, alam telah ber empati bagaimana ia menyaksikan penduduk penduduk pribumi di kuras habis tenaga nya membangun bangunan ini, mungkin tak hanya tenaga, nyawa pun bisa habis seketika. Tak ada istilah lelah dan segala istilah bangkangan bila tak ingin peluru bedil bersarang di kepala. Balok balok kayu tebal nya minta ampun menyusun, menopang, membantu bangunan itu berdiri. Tembok nya amat tebal, daun pintu dan jendela jendela nya juga tak kalah lebar. di tahun itu sudah pasti bangunan itu berdiri dengan arsitektur modern bergaya campuran karena pada tahun berdiri nya bangunan ini di abad 20 pemerintah Belanda telah memunculkan gerakan pembaharuan dalam arsitektur baik nasional maupun internasional di Belanda yang kemudian memengaruhi arsitektur kolonial Belanda di Indonesia. Terbentuklah bangunan ini ber gaya arsitektur modern di zaman itu. Megah, tak satu pun mampu menandinginya, rumah rumah warga bukan lah tandingan. Lagi pula siapa yang berani mencoba menandingi Belanda dalam hal apa pun? Meskipun sekarang kau hanyalah bangunan tua bekas belanda.
Betapa kami bisa menolak tidak bersyukur, saat dulu bangunan ini hanya di huni oleh orang orang elit, kolonial dedengkit, saat hanya bahasa belanda yang boleh terucap, Saat hanya bendera belanda yang boleh berkibar, dan saat hanya lagu belanda yang boleh menggelegar di bangunan ini. saat hanya anak anak kolonial yang ber hak mengemban ilmu, bersekolah di bangunan ini jika memang bangunan ini adalah bangunan sekolah di zaman itu. Mereka para pribumi hanya bisa gigit jari, meratapi, menyaksikan betapa bahagianya jika anak anak mereka bisa bersekolah layak nya anak anak berambut pirang.
Kini sepenuh nya bangunan itu milik kami, para leluhur yang telah mengorbankan harta benda dan jiwa nya telah mewariskan nya untuk kami seluruh siswa siswi sekolah dasar negeri 1 sepanjang glenmore kabupaten Banyuwangi. Bahasa Indonesia dan daerah menjadi bahasa sehari hari menghiasi bangunan ini, mengapa? Di zaman kolonial mana sudi belanda memberi izin rakyat indonesia menggunakan bahasa nya dalam bahasa ke sehari an, dan tak sudi bahasa indonesia atau daerah yang saat itu menjadi bahasa rakyat indonesia terucap di bangunan bangunan belanda. Enam tahun sudah ia menaungi ku, kawan kawan kecil ku dan juga saudara ku yang enam tahun dari kelas satu sampai enam menghabiskan waktu di bangunan ini, menghabiskan waktu mengenal Indonesia, menumbuh kembang kan rasa nasionalisme, patriotisme, ber nyanyi, menari, ber main, belajar matematika, ipa, bahasa indonesia, agama dan tak lupa sejarah yang membuat kami mengenal peristiwa 28 oktober 1928. Betapa besar jasa mu, kini seiring berjalan nya waktu usia mu bertambah tua namun kau tetap kokoh berdiri kau mengerti bagaimana siksa, penderitaan yang di ciptakan kolonial hingga membuat mu gagah berdiri. Kau mengerti masih banyak anak anak negeri ini yang perlu kau naungi dalam menggapai mimpi. meskipun sulit rasa nya berharap ada biaya yang memberi perawatan pada mu, mengganti tiang tiang mu yang mulai berkarat, atap atap mu yang bocor di saat hujan, penampilan mu yang mulai usang, lantai mu yang mulai menyerupai tanah.
dengan sisa tenaga yang kau miliki sebisa mungkin kau lambat untuk mati, bertahan demi generasi generasi bumi pertiwi. Bertahan demi bendera merah putih di depan mu yang gagah berkibar


SEKOLAH DASAR NEGERI 1 SEPANJANG

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beladiri dan kemenangan

Beladiri dan kemenangan Merujuk pada sabda Nabi Muhammad Saw pada sebuah hadist yaitu Bukhori dan Muslim yang menyebutkan ajarkanlah anak (laki laki) kita berkuda memanah dan berenang. Pastilah mempunyai alasan mengapa tiga hal tersebut diatas di anjurkan untuk anak anak kita dan kita para lelaki khusus nya. Tidak hanya sebagai olahraga yang kita peroleh manfaat nya berupa kebugaran tubuh dan kesehatan, di lain daripada itu adalah dasar kemampuan  kita dalam membela diri dari suatu ancaman yang tidak kita duga. Jadi,,, sudah barang wajib to bagi lelaki memiliki kemampuan dasar membela diri terlebih lelaki adalah calon calon kepala rumah tangga bagi yang belum berumah tangga seperti saya yang sekaligus juga pelindung bagi keluarga tercintanya. Luas daripada lingkup rumah tangga adalah kesiapan kita sebagai seorang muslim yang jugalah wajib menjadi barisan terdepan sewaktu waktu perang terjadi. Loh kan perang Pake teknologi canggih? Iya juga ya... Tapi tunggu dulu, merujuk pada seb...