"Aril Piterpen..."
Moment indah bagi ku. Pengumuman sosok pemenang lomba tujuh belas agustus akan segera di mulai, sekolah kami bukan lah sekolah favorit, siapa yang meminati sekolah kami selain orang orang tua yang terpaksa menyekolahkan anak nya ke sekolah kami karena kondisi ekonomi mereka berada di batas bawah ambang sakaratul maut maka uang hanya cukup di gunakan membeli beras, atau karena anak anak mereka sendirilah penyebab tak ada pilihan lain selain sekolah kami, aku contoh nya korban penolakan tragis pendaftaran memasuki sekolah menengah pertama karena nilaiku kurang 0.35 satu lagi karena aku terang terangan berkata jujur tak bisa berbahasa inggris saat tes interview. Itu lah penyebab dua sekolah menolak ku. Itu pula sebabnya mengapa sekolah ku menyandang nama super keren smp terbuka, terbuka bagi siapapun, siapa pun yang terdepak, terbuang dari sekolah sekolah lain. Sekolah kami mewujud kan mimpi bagi setiap orang orang tua yang ku yakini memiliki mimpi yang sama untuk anak anak mereka, tak pandang kaya atau miskin. Ia menjelma menjadi peri pendidikan bagi ku dan kawan kawan ku tak lain tak bukan karena sepasang kekasih setiap harinya tanpa lelah mengurus sekolah sekaligus kami siswa siswi nya. Sepasang kekasih itu ialah bapak surpargi dan ibu rukyatin suami istri ber tolak belakang karakter nya, ber karakter tak sesuai kodrat. seorang perempuan justru lebih keras sedangkan lelaki nya lembut dan sabar bukan main, namun soal cita cita kedua nya untuk sekolah kami, membuat ku terharu bila menceritakan nya.
Tak ada yang istimewa merayakan tujuh belas agustus selain upacara bendera, sekolah tak memiliki banyak dana untuk menyenangkan siswa siswa nya membawanya terbang tinggi ke dalam euphoria tujuh belas agustus. Maka satu satu nya perlombaan yang tak membutuhkan biaya adalah lomba azan, cukup musholla sebagai tempat nya dan di dukung oleh microphone ala kadar nya. Fasilitas itu pun bukan milik kami melainkan milik SMPN 10 Samarinda yang kami menebeng di tiga gedung bangunan nya paling belakang, belakang sekali dari sekolah menengah pertama negeri 10 Samarinda. Tiga kelas untuk kelas satu dua dan tiga. Pas. Bagi para siswi, ibu rukyatin mengetes baca an al Qur'an mereka masing masing di barisan belakang musholla mereka duduk berjejer rapi mengenakan mukena. Aku dan para siswa yang lain duduk rapi menunggu antrean unjuk suara di bagian depan shaf musholla. Tak banyak dari kami yang mengerti soal jenis jenis lagu atau nada dalam azan selain azan yang ada di chanel chanel televisi, maka kami tinggal memilih trans7, transtv, rcti, tpi, atau kah sctv. Masing masing kami sibuk tes vokal, ada yang berdiri sendiri di pojokan, atau sekadar duduk dengan hikmat memejamkan mata, melafalkan kalimat kalimat indah itu jauh di dalam lubuk hati terdalam.
Sore itu kami seluruh siswa siswi Smp terbuka telah berkumpul di halaman sekolah, pak supargi berdiri di depan panggung alias teras kelas satu menyiapkan barisan sementara istri tercintanya berdiri di samping kiri nya. Beberapa menit beliau memberikan petuah petuah pemertebal iman, dan menyampaikan tujuan utama nya kami di kumpulkan di halaman sekolah. Hari ini adalah hari pengumuman pemenang lomb azan, pemenang meliputi juara satu sampai tiga dan juara harapan satu sampai harapan tiga. Hari ini aku akan naik ke panggung berdiri di samping beliau dan menerima hadiah, setiap hari aku telah bersiap siap akan moment ini maka tak terlewat kan sehari pun aku meninggal kan minyak tanco dari dalam tas ku, tak ku potong rambut ku semenjak pergelaran lomba azan itu selesai, semenjak dengan lancang aku diam diam membuka kertas nilai juri lomba azan saat kertas itu di tinggal wudhu oleh juri tak lain adalah pak supargi dan mengetahui bahwa nilai ku adalah tertinggi, yeah aku juara satu.
Maka saat terdengar maksud beliau soal di kumpul kan nya kami di halaman sekolah, ku pancal kan kaki ku menyentak tanah, bergerak cepat, menyelinap ke barisan paling belakang, di saat dua pasang mata lengah aku berlari ke kelas melanjutkan pelarian ke toilet, ku oles kan minyak tanco sebanyak dua buah biji kacang, satu bagian kiri satu lagi bagian kanan kepala. Dengan tekanan dan tarikan yang kuat dalam hitungan detik rambutku telah terbelah menjadi dua, sedikit jambakan khas ala pria flamboyan terbentuklah rambut aril piterpen tergambar pada cermin toilet
Sang juara pasti akan naik panggung paling akhir, aku telah siap, kembali aku menyelinap masuk barisan yang sengaja ku pilih barisan paling belakang. Lima siswa sudah berdiri berada di atas panggung. Kurang satu. Sejenak Pak Supargi menarik nafas secara dalam, mata nya memandang menghambur ke barisan, saat nya memanggil sang juara, sesaat terpaku pada satu titik, ia telah menemukan sang juara. Jantung ku berdetak kencang. "Juara satu lomba azan kali ini adalaaaahh..." beliau tersenyum, lalu kemudian "Oding Dede Saifillaaaa... " uuwaaaa.... Hati ku senang bukan main, seluruh pasang mata tertuju pada ku. Riuh suara sorak tepuk tangan. Dengan pasti aku melangkah dengan badan tegap memastikan pandangan lurus ke depan, inilah tujuan ku memilih barisan paling belakang peristiwa naik panggung itu berjalan lama di ikuti seluruh pasang mata yang setia mengikuti perjalanan ku dari barisan belakang menuju panggung. Seorang siswi adik kelas menyeletuk mengatakan aku mirip aril piterpin saat bapak Supargi memberi selamat dan menjabat tangan ku. Ia terpesona akan dua tungkai rambut ku yang menggelayut mesra oleh semilir angin membuat ku ber karisma tiada dua. Kepala ku merekah bak merekahnya bunga menyambut matahari. Ku dapati diri ku ber konser di saksikan puluhan pasang mata, lagu topeng menggema ke seantero kota. celetukan itu menembus hati masuk kedalam sukma, beranak pinak, beratus, beribu hingga berpuluh puluh ribu. Aril, aril, aril.... Fansku berteriak histeris. Hingga benar benar ku sadari aku tak ubah nya aril counterpen tubuh ku panas, muka ku lengket oleh minyak tanco yang mengalir terbawa keringat. Selama di panggung badan ku bergetar hebat, tak semestinya orang pemalu berada di atas panggung....
Namun soal ariel peterpan itu benar benar nyata.
Komentar