Kata orang, berkelanalah. cari cinta mu di sepanjang kau berkelana... Tempat yang seharusnya ramai terlihat sunyi, waktu menunjukkan pukul 22.30 Wib penerbangan terakhir telah berlalu beberapa jam yang lalu, lengang, hanya satu dua orang saja duduk di kursi tunggu itu pun tak semua kursi tunggu berpenghuni. Jumlah nya ber puluh puluh berjejer jejer, aku satu diantara dua orang yang menempati kursi kursi tunggu itu.
Tidak ada aktivitas apa pun selain segelintir orang orang yang berwajah letih dan bosan kerana menunggu sebab datang terlalu awal sedangkan penerbangan masih besok pagi atau kerana memilih sejenak beristirahat setelah lelah melakukan perjalanan udara kemudian kembali melanjutkan perjalanan atau ingin pulang.
Satu dua jam berlalu malam semakin larut. Meskipun larut, purnama membuat langit tetap terang.
Sudah hampir satu bulan aku berkelana mengelilingi pulau jawa bali sampai Nusa Tenggara timur bermodal kan tekad, jalan saja tak peduli jikalau harus tak makan, tak peduli jikalau harus tak mandi, tak peduli jikalau terpaksa menginap di emperan toko toko pinggir jalan, entahlah aku merasa ini jauh lebih baik demi menemukan separuh hati yang sampai saat ini menjadi sebuah misteri, demi percaya ucapan yossi aku melakukan nya.
Suatu malam saat kami berdua duduk di sebuah loteng kos tempat aku tinggal, kami menatap langit, bulan dan bintang yang sama. Duduk di dipan panjang terbuat dari bambu di temani secangkir kopi panas yang dalam sekejap menjadi dingin oleh suhu udara malam yang sering kali menelisik apa pun yang menghalangi nya berhembus. Mendiskriminasi apa pun itu yang bersuhu panas agar mendingin cepat.
Melipat kan kedua kaki sedangkan kedua tangan ku menahan nya dengan melingkarinya. Ini lah posisi menurut ku yang pas merundungi nasib, setiap hari setiap malam. Kokoh mendongakkan kepala, malam ini seperti malam malam kemarin Allah masih maha kuasa atas ciptaan nya bintang bintang terang berpijar pijar, bulan bercahaya antusias sekali menunjukkan kemolekan pesona nya, malam ini ia tersenyum sedikit malu. Cahaya nya mentemaramkan warna langit tidak juga terang tidak juga redup al hasil kerlap kerlip bintang nampak indah nun jauh di sana mencoba meningkahi bulan.
Kenapa kau sal? Akhir akhir ini sering kali aku lihat kau termanung.
Tak apa yos, Allah terlalu indah menciptakan malam wajar lah aku termanung.
Oo.... Aku tau... Yossi mengangguk angguk kan kepala nya, setelah selesai mengupas kacang terakhir nya. Duduk di samping ku menenggengkan kaki kiri nya (macam orang makan di warung tegal). Setelah melakukan satu seduhan kopi ia melanjutkan kalimat nya.
Soal jodoh kan sal?? Ya ya ya aku tau,, mengangguk angguk seolah paham sekali
Bukan yos, bukan, aku mencoba menampik tebakan nya. Untuk apa aku permasalahkan jodoh yos?? Allah telah menentukan waktu nya.
Aiih.... Sok kuat kamu sal, ia menepuk pundak kanan ku. Hey tenggok, ekspresi wajah mu tak bisa di bohongi sal, dalam hal membaca ekspresi wajah ia memang ahli, bukan karena memiliki kemampuan atau ahli psikologi melainkan dulu Kami telah hidup dalam kos yang sama bertahun tahun.
Berkelana lah sal, berkelana. Tatapan nya begitu tajam membawa ku terbang ke arena pertarungan tinju, ayo lawan aku sal begitulah maksud nya. Terima lah tantangan ku (Berkelanalah!!!)
Untuk apa berkelana yos??
Nanti kau akan mengerti, jika kau siap aku akan membelikan mu tiket pulang pergi Surabaya sal.
Berapa lama aku harus berkelana, berapa lama waktu yang di butuhkan untuk mengerti maksud mu yos?
Kau tenggok bulan sal,
Ya, bulan sabit (hampir) terus?
Berkelanalah, kembalilah saat bulan sempurna seutuhnya.
Purnama maksud mu yos?
Yossi menggangguk. aku akan memesan kan tiket untuk mu, bersiaplah besok kau harus pergi tinggal kan kota ini.
Aku bingung, masih tak mengerti maksud yossi, baru malam itu membicarakan soal berkelana ke esok kan pagi nya aku benar benar harus pergi berkelana meninggal kan kota bahkan pulau. Sempat aku menolak namun apalah daya.
Semakin hari semakin aku merasa sepi, seharusnya sudah waktu nya, ya, waktu nya aku memiliki kekasih waktu nya hati ini menjalani hidup bersama hati dari orang lain yang kemudian di sebut sebagai pendamping hidup. Yossi jauh lebih dewasa dari ku meskipun kami seumuran, dewasa dalam berpikir nya, Yossi tau betul soal perkara ku yang telah lama aku pendam, Yossi telah menikah terlebih dahulu lima tahun yang lalu, saat ini usia kami sama tiga puluh tahun, aku selalu mendapati kegagalan soal hati soal kekasih soal pendamping hidup. Tak hanya sekali melainkan berkali kali. Tak ada daya untuk menolak, Yossi sudah terbukti soal cinta oleh kehadiran Delli istrinya. Maka pagi itu, di tanggal mendekati akhir bulan januari aku benar benar pergi meninggalkan pulau, berkelana tanpa rencana tak tau entah kemana.
-------Malam se orang diri di sebuah bandara, masih tak mengerti apa maksud yossi soal berkelana, malam ini telah bulan purnama. Esok aku akan terbang kembali pulang. Telah banyak aku menemui bahkan mengenal seorang wanita namun tak satupun menjawab maksud berkelana dari yossi, soal jatuh cinta atau pun perasaan, aku masih merasa biasa.
Aku duduk terdiam di kursi besi panjang lobi bandara, badan ku letih. Aku tak sendiri beberapa orang di sekeliling ku mungkin juga lah merasa letih, sebagian berbaring di kursi, sebagian menggelar tikar di lantai mungkin tak terbiasa tidur di kursi dan sebagian tertidur sambil duduk.
Dari kejauhan, seorang wanita berkuncir, celana panjang jeans, dan sepatu dan pakaian sport berjalan sembari menyeret koper besar berwarna abu abu, beserta ransel tanggung di punggungnya terus berjalan mendekat menyusuri lorong lobi bandara yang sepi dan lenggang. Berjalan bahagia. ekspresi muka dan berjalan nya kontras sekali dengan kebanyakan aku dan orang orang yang di dera letih dan jenuh. Headset yang tertancap di kedua liang telinga nya membuat nya nampak ceria dan bahagia.
Sampai di sini dulu.....
Komentar