Langsung ke konten utama

Bersepeda

Kau tau islamic centre?? Hampir seluruh orang menyebut masjid megah yang terletak di samarinda dan tak jauh dari tepi sungai mahakam ini dengan sebutan islamic centre. Lokasinya memang tak jauuh dari sungai mahakam yang menjadi latar depan masjid, indah bukan??. Masjid ini mempunyai 7 menara menjulang tinggi gagah perkasa bak penguasa langit yang tak tertandingi, menara utamanya setinggi 99meter bermaknakan asmaulhusna atau nama nama allah. Di tengah ke tujuh menara terdapat kubah besar yang tak kalah perkasa dan juga merupakan masjid termegah dan terbesar kedua se asia tenggara setelah istiklal masjid kebanggaan masyarakat jakarte. Katanya sih begitu. Tak heran jika banyak sekali orang yang berasal dari luar daerah menyempatkan diri untuk beribadah atau hanya sekedar berfoto riya ketika berkunjung ke kota samarinda.
Di kala sore hari banyak sekali masyarakat yang berkumpul di area luar lingkungan masjid yang sangat luas ini, entah tak tau pasti berapa luasnya. Terlebih pada saat weekend.  Hanya untuk sekedar bersepeda, bermain sepatu roda, jogging atau  sekedar berkumpul dengan keluarga.
Tak terkecuali aku dan maya, kami baru saja  bersepeda berkeliling kota samarinda dari awal start pukul 16.15 hingga saat ini maya terlihat begitu bersemangat sekali seolah tak ada lelah yang ia rasakan. Wajahnya pun tetap segar tak terlihat lesu padahal sudah satu jam lebih kami bersepeda tanpa berhenti. Selama bersepeda Aku memang sengaja tak mengajaknya untuk beristirahat, meskipun sempat sesekali saat kami berjalan sejajar  aku tanya padanya.
Masih kuat may?
Kamu sudah capek ya? (maya balik bertanya)
yakin masih kuat?? (sahutku dengan nada yang lebih keras)
kamu ngeremehin akuu? Suara maya tak kalah keras, sebenarnya nada dan volume bicara kami berusaha mengungguli suara kendaraan kendaraan yang sedang ramai melintas di jalan raya.
Sambil tersenyum maya mengayuh sepedanya lebih cepat melejit 5 angka di depanku dalam satuan meter mukanya menoleh kebelakang dengan tatapan menantang aku tau apa artinya itu. ”come on kejar aku come on kejar aku”. namun satu yang begitu indah, apalagi kalau bukan senyumannya itu yang membuatku benar benar terpesona terbang melambung tinggi seperti ketika seseorang melepaskan balon dari genggamannya untuk dapat terbang bebas sesuka hati. Seperti itulah yang aku rasakan ketika setiap kali maya memberikan senyumannya pada ku seolah segala sesutu beban kehidupan yang ku rasakan hilang begitu saja entah kemana larinya.
Menanggapi tantangan yang maya berikan  Aku hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum kecil “tantanganmu tiadalah berarti hati ku bersuara lirih”. Tak lupa ku balas dengan tatapan maut yang telah ku selipkan mantra mantra cinta di dalamnya berharap ia juga akan tersihir dan terpesona pada diriku. Aku tetap berjalan mengekor di belakangnya sambil terus melamun mengagumi sosok keunikan dan kecantikan seorang maya, berandai andai tak jelas dan terkadang juga tak masuk akal. Sesekali aku ucapkan kalimat astagfirulloh sambil memejamkan mata tatkala fikiran itu menyimpang meskipun itu adalah fitrah setiap manusia. Aku tau saat ini semangatnya masih membara membuatnya tak ingin di kalahkan sebab itulah aku tak ingin terburu buru menjawab tantangannya meskipun berkali kali ia berkata dengan suara keras dan mengejek ‘Ahh rendi lemahhh haha’ ku balas saja dengan senyum dan berpura pura lemah untuk tetap menjaga agar semangatnya tak pudar terlalu dini.
Sebentar lagi di depan sana akan ada jalanan yang menanjak dan cukup panjang lintasanya, aku yakin sekali tenaga maya akan habis dan berhenti di sana. Aku penasaran apakah ia masih bersemangat dan mampu melewatinya. Di jalan itulah aku akan menjawab tantangannya. Roda sepeda terus berputar begitupun dengan musik yang sedang ku perdengarkan (love story oleh taylor swifth) awal liriknya “ we wre both young when i first saw you” ku pejamkan mata dan kilas balikpun di mulai kau jadi juliet aku jadi romeo, kisah cinta romeo juliet di kota samarinda sebelum akhirnya menuju roma italia, menurutku itu tak kalah romantis.
Semakin  menuju tanjakan itu aku lihat dari belakang maya mengayuh sepedanya semakin cepat, aku mengerti strategi yang di gunakannya. Dengan kecepatan yang semakin tinggi maka ketika sesampainya pada jalanan yang menanjak akan semakin jauh pula jarak yang dapat di tempuh tanpa menggunakan tenaga yang begitu besar (sisa daya dorong maksudnya) sehingga ia hanya akan menggunakan tenaga ekstra di sisai lintasan yang pendek. Terus mengekor di belakangnya mengatur jarak sedekat mungkin itulah cara ku mensiasati strategi maya. Ia melejit hingga pertengahan jalan yang menanjak ini, semakin menanjak kecepatannya semakin berkurang semakin pula ia menggunakan tenaga ekstra. Maya mulai kelelahan tapi ia tak ingin menyerah begitu saja. Dengan santai aku menyusulnya berjalan sejajar di sebelah kanannya tak sedikitpun ia menoleh ke arahku mungkin ia tak ingin menyaksikan wajahku yang tak sedikitpun menimbulkan kerut wajah kerja keras, 180 derajat berbeda dengan maya. Bagiku ini bukanlah tanjakan yang berarti untuk aku lalui, berbeda dengan maya seorang wanita yang jarang sekali berolahraga tergopoh gopoh suara hembusan nafasnya terdengar begitu jelas. Dengan wajah soo cool Kembali ku tanyakan padanya.
masih kuat may?
huff huff hufff  suara maya tanpa memedulikan pertanyaanku.
may??? huff huff kembali suara itu yang ku dengar.
masih nantang aku ya??? huff huff huff, okeee lihatlah ini. Ku kayuh sepedaku dengan sekuat tenaga setara dengan 100 tenaga anak kuda baru lahir cuuuuuuussss dalam hitungan detik mengantarkanku sampai ke puncak jalan.
Huff huff huff kini giliranku yang mulai ngos ngosan ku tanggalkan sepedaku sembari mengatur nafas. Aku lihat di bawah sana maya sempoyongan sepedanya berjalan meliuk liuk bak seorang yang mabuk akibat minuman topi miring, tangan dan badannya gemetar muka putihnya memerah. Tak tega melihatnya namun di satu sisi aku harus tetap membiarkannya berusaha untuk mencapai puncak. Melihat keadaan ini dengan sendirinya Langkahku bergerak cepat menghampirinya memberikan bantuan dengan memotivasinya ‘ayo may kamu pasti bisa semangat dikit lagi sampai, ayo ayo ayo’ sembari bertepuk tangan tak peduli dengan keadaan dan orang orang sekitar.
Ternyata tindakanku tak sia sia maya mengurungkan niatnya menjatuhkan kakinya ke bumi tetap terus menjaganya tertahan pada pedal, semangatnya kembali muncul sambil menatapku. Senyumnya memancar ‘subhanalloh’ kembali aku terpesona akan kecantikannya semakin pula bersemangat menyorakinya. Sekuat tenaga ia kayuh sepedanya hingga Sampailah ia di puncak, ku sodorkan air mineral padanya.
"may minumlah kamu pasti haus" tanpa basa basi ia meraih botol air mineral dan meneguknya dengan cepat serupa orang tak pernah minum air setelah berhari hari berpuasa.
"makasih ya ren kamu baik deh" sambil mengarahkan mulut botol ke arah bumi tak setetes pun tersisa.
Kamu pasti haus ya? nih di minum", memberikan kembali botol itu pada ku.
jahat sekali tak kau sisakan sedikitpun untukku,_
kamu gak iklas kasih aku air minum??
bukannya gak iklas may tapi aku minum apa?
Kamu minum senyumku aja hiiiii_
oh my gooood bagaimana bisa dia tau  lirihku, salah tingkah aku di buat olehnya dan tak sanggup menatap wajahnya. Maya hanya tersenyum memperhatikan sikapku.
kenapa renn?????,_ gak papa menjawab dengan bibir bergetar.
Itulah sedikit kisah awal perjalanan bersepeda kami sebelum akhirnya sampai pada masjid yang megah ini untuk sekedar beristirahat menikmati hembusan angin sepoi sepoi, jajanan dan pemandangan matahari terbenam di taman yang terletak bersebrangan dengan masjid. Orang orang menyebutnya taman ini dengan tepian karena letaknya tepat di tepi sungai mahakam yang membelah kota samarinda menjadi dua. Senja bersama maya.
Ini hanya cerita fiktif dari penulis hanya sekadar ke isengan belaka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beladiri dan kemenangan

Beladiri dan kemenangan Merujuk pada sabda Nabi Muhammad Saw pada sebuah hadist yaitu Bukhori dan Muslim yang menyebutkan ajarkanlah anak (laki laki) kita berkuda memanah dan berenang. Pastilah mempunyai alasan mengapa tiga hal tersebut diatas di anjurkan untuk anak anak kita dan kita para lelaki khusus nya. Tidak hanya sebagai olahraga yang kita peroleh manfaat nya berupa kebugaran tubuh dan kesehatan, di lain daripada itu adalah dasar kemampuan  kita dalam membela diri dari suatu ancaman yang tidak kita duga. Jadi,,, sudah barang wajib to bagi lelaki memiliki kemampuan dasar membela diri terlebih lelaki adalah calon calon kepala rumah tangga bagi yang belum berumah tangga seperti saya yang sekaligus juga pelindung bagi keluarga tercintanya. Luas daripada lingkup rumah tangga adalah kesiapan kita sebagai seorang muslim yang jugalah wajib menjadi barisan terdepan sewaktu waktu perang terjadi. Loh kan perang Pake teknologi canggih? Iya juga ya... Tapi tunggu dulu, merujuk pada seb...