Pohon pohon terombang ambing mentiung kesana kemari menari nari sembari menggugurkan satu persatu daunnya berhamburan di udara entah tak tau berapa jumlahnya bukan karena sebagai upaya beradaptasi terhadap musim dingin, tidak sama sekali melainkan sebagai akibat karena tetap memilih untuk tidak tumbang dan tetap bertahan menghadapi deruan angin yang menggebu gebu tak henti hentinya datang membawa ribuan bala tentara. Sepertinya angin tak sedikitpun memberikan ampun sedangkan akar yang menjadi pondasi utama sebuah pohon sedang berjuang keras mencengkram bumi. Tak terlalu sulit untuk mengetahui seberapa besar tingkat kekuatan angin yang berhembus sejak dua jam yang lalu, cukup dengan pengelihatan mata terhadap pohon pohon yang menjadi korban dapatlah di ambil kesimpulan semakin banyak daun yang berguguran itu artinya semakin kuat pula kekuatan angin. Dan tak terlalu sulit juga untuk mengetahui bagaimana pergerakan angin dalam membuat kekacauan ini. Daun daun yang berguguran tadi berterbangan membentuk sebuah pusaran air yang berputar kencang beserta materi materi lain yang ikut terbawa tak terkecuali sampah sampah yang berserakan di tanah. Tak jauh beda halnya dengan angin, hujan yang ikut turun menyertainya juga tak kalah ampun menghunjam bumi beserta isinya. Entah berapa banyak bala tentara yang di bawanya, anggaplah saja bila satu detik turun satu juta tetesan air kalikan dengan dua jam atau lima ribu dua ratus detik, tak terbayang bukan. Bila hal itu di bayangkan oleh orang miskin yang terobsesi menjadi kaya atau yang hijau akan uang tentu hasil dari perhitungan itu sangat menggiurkan. Percayalah aku bukanlah orang miskin yang seperti itu tak pernah aku menghayal seperti itu.
Beberapa tetesan hujan yang terbawa oleh angin terhempas di jendela ruangan tempat aku berada, duduk berada di barisan paling depan tiga kursi dari jendela dapat dengan jelas mendengar hantaman tetesan tetesan air tersebut yang terbawa oleh angin terhempas pada kaca jendela di sebelah kiriku, memperhatikan setiap tetesan tetesan air yang mengalir pada kaca, tertahan lajunya sesaat dan kemudian meluncur ke bawah dengan bebas tanpa hambatan melukiskan lintasan lintasan vertikal meliuk liuk. Yang di buatnya sungguh indah seakan akan lintasan lintasan itu di bentuknya secara terpola, sempat beberapa saat terlamun mencoba menghitung berapa banyak lintasan yang di buat dalam kurun waktu sekian detik namun segera tersadar akan getaran handphone ku yang bergetar di kantong celana kananku. Meskipun suara nada deringnya nyaring namun kali ini tidak, suaranya samar samar terkalahkan oleh suara hujan yang bertubi tubi menghunjam atap kelas menimbulkan suara gemuruh yang tak beraturan nadanya. Mengangkat sebuah telfon di kondisi seperti ini tentu merugikan karena aku harus tetap Menjaga konsentrasi pada dosen yang sedang menjelaskan sebuah materi pembelajaran yang sulit untuk aku mengerti, sesaat saja mengalihkan konsentrasi maka bablaslah angine begitulah orang jawa menyebutnya. Terlebih suara sang dosen yang timbul tenggelam beradu oleh suara hujan yang notabenenya tak terkalahkan. Membuatku berusaha berlipat lipat memekarkan daun telinga memperbesar otot otot pada mata untuk terus memperhatikan gerak gerik bibirnya, barang kali jikalau telinga tak mampu mendengar, mata akan membantu mentranslate gerak bibirnya untuk kemudian di terima dan di cerna oleh otakku.
Di kondisi seperti ini duduk di barisan paling depan tidak lagi menjamin memperoleh informasi yang paling jelas, entah bagaimana nasib teman temanku yang kursinya berada di urut paling belakang, bablas angine mungkin menjadi penderitaan yang cocok bagi mereka. Beberapa saat kemudian handphone kembali berdering dan bergetar, kembali menjaga konsentrasi aku menghiraukannya, namun beberapa saat kemudian kembali berdering dan bergetar lagi, tetap dengan tekad kembali aku menghiraukannya. Dan kembali berdering dan bergetar lagi namun kali ini dering dan getarannya berbeda ya benar sekali sepertinya ada pesan masuk yang sedang aku terima, umumnya bila seperti ini rasa penasaran itu akan meningkat berkali lipat seberapa besarpun usaha menghiraukan terkalahkan jua. Oke baiklah.... ku baca pesan masuk itu. “assalamualaikum maaf mas menggangu, benar ya ini mas rendi???” (nomor tanpa nama). Kalimat itu begitu sopan, hatiku berharap pesan ini dari seorang wanita dan bila sudah seperti ini umumnya rasa penasaran itu akan semakin meningkat. Dengan kalimat singkat dan menjawab secukupnya.
“benar, ini siapa?”.
Kring.. balasan pesan aku terima.
“ dua minggu yang lalu kita pernah ketemu mas”.
Pesan kali ini membuatku semakin penasaran fikiranku mulai mengingat peristiwa peristiwa dua minggu yang lalu dan menerka nerka siapakah gerangan sosok pengirim pesan ini. Fikiranku langsung mengerucut pada dia seorang wanita yang pernah aku temui di toko buku. Yup, aku yakin. Sampai disini sepertinya harapanku akan segera terwujud, senang rasanya garis senyum terbentuk begitu saja di wajahku, namun tetap ku redam keyakinan itu agar tak terlalu kecewa bila keyakinan itu menjadi boomerang yang mendadak berbalik menyerang. Barang kali bukan dia. Dengan membalas pesannya secara singka aku mencoba untuk meyakinkan bahwa itu benar dia.
“mbak annisa ya??”
hatiku berdegub kencang penuh harap.
Kring..... “hehe iya mas bener, masih ingat ya”
aaaaaaa..... membaca balasan pesan darinya membuatku senang bukan kepalang sekejap menjelma menjadi ikan yang terdampar klepek klepek di daratan. Ingin rasanya jungkir balik, gulung gulung, salto depan belakang, menari nari di bawah hujan tak peduli badai menghunjam. Namun semua itu hanya terwakilkan oleh senyum bahagia yang lebar yang tak bisa ku tahan, seorang teman di sebelahku melihat ku sedang tersenyum padahal saat itu suasana kelas tenang penuh konsentrasi. Tak ingin tertangkap basah senyum gara gara pesan seorang wanita secepat kilat ku rubah tampilan di layar handphone sembari berkata dan menghadapkan handphone kewajah temanku “haha lucu betul bro gambar ini”, hanya ekspresi senyum keheranan yang aku peroleh darinya. Secara, menurutku gambar ini biasa saja entah aku sendiri tak tau di mana letak lucunya. Mendapat pesan singkat darinya fikiranku pun tak lagi terfokus oleh materi yang sedang dosen berikan, dengan hati senang kembali aku lanjutkan membalas pesan singkatnya hingga sampailah pada percakapan bahwa dia ingin mengajakku bertemu.
“kalau sore ini gak ada kegiatan boleh gak mas kita ketemu??”....... NEXT->>>
Perkenalan ku dengannya berawal dari dua minggu yang lalu di kala sore dan di hari sabtu atau bisa di sebut sabtu sore, sabtu sore yang mengesankan lebih tepatnya. Waktu itu satu dosen di jam mata kuliah terakhir berhalangan untuk hadir itu artinya waktu untuk pulang lebih cepat dari sabtu biasanya, sedih rasanya, itulah ungkapan dari kebanyakan teman yang aku dengar, sebuah ungkapan yang munafik. Hari masih terlalu siang untuk segera pulang menuju rumah, guna memanfaatkan waktu yang ada tiba tiba saja aku ingin menuju ke sebuah toko buku yang terletak di komplek mall lembuswana samarinda, di sana banyak sekali buku buku yang menarik untuk di baca. Segera mempersiakan diri berjalan perlahan menuju motor sebelum akhirnya tancap gas, di saat seperti ini aku memang tak pernah mengajak seorang teman demi mendapatkan keleluasaan waktu maupun bertindak di toko buku nanti. Hanya membutuhkan waktu spuluh menit saja dari tempatku berada untuk menuju toko buku itu dengan kecepatan sedang.
Setibanya di toko buku tersebut berlama lama aku berdiri tepat di pintu masuk, karena pada pintu masuk toko ini terdapat air conditioner yang menghembuskan udara dingin. Siang itu cuaca begitu panas keringat tak dapat di bendung untuk mengucur keluar melalui pori pori kulit, biasanya sebagai alasan mengapa aku berlamam lama berdiri pada pintu masuk toko buku itu aku berpura pura membaca pesan di handphone atau menelfone sembari tengok kanan kiri seolah olah sedang menunggu seorang teman. Aku lakukan seperti itu sampai benar benar badanku terasa segar dan terhindar dari keringat yang merisihkan badan. Setelah itu segera aku menuju ke lantai dua disanalah terdapat banyak sekali buku buku yang menarik di baca, mengapa aku katakan menarik di baca bukan menarik di beli? Padahal tempat ini adalah toko buku, tentu kalian tahu pasti alasannya, bukan karena tak mampu untuk membeli melainkan karena menjalankan pola hidup hemat, alasan yang masuk akal untuk menutupi kemiskinan yang tak ingin di tampakkan atau sebuah sifat pelit untuk mengeluarkan kocek sepersenpun demi memiliki buku.
Kali ini aku melihat pengunjung beraneka ragam dari berbagai kalangan usia dan umumnya aku melihat sebagian besar dari mereka yang masih usia muda menggunakan kacamata sembari membaca buku dengan berdiri terkadang hingga berjam jam lamanya dan bila telah lelah biasanya mereka akan berganti posisi dengan jongkok bahkan duduk di lantai. Apakah mereka orang orang pintar?? Apakah mereka hanya membaca buku saja dan tidak membelinya? Itulah pertanyaan saat itu yang bergejolak di hatiku. Berjalan menyusuri barisan barisan buku yang tertata rapi beserta tata ruang yang memudahkan bagi pengunjung untuk mencari kategori buku yang di cari atau di kehendaki sangatlah mengasyikkan.
Satu jam setengah sudah aku berada di toko buku ini melakukan seperti apa yang mereka lakukan yaitu membaca beberapa buku tanpa membelinya. Waktu menunjukkan pukul 15. 20 saat itu terdengar suara adzan ashar dari handphone salah seorang pengunjung. tubuhku yang mulai lelah dan perut yang mulai melantunkan musik keroncong memaksaku untuk segera keluar dari toko buku tersebut untuk makan di salah satu warung yang terdapat tak jauh dari mall ini dan kemudian menunaikan ibadah wajib sholat ashar di masjid yang bersebrangan dengan mall ini. Setelahnya sholat ashar usai, rasa penasaran akan buku yang aku lihat di rak kategori pertanian ketika meninggalkan toko buku itu tak terbendungkan lagi akhirnya aku putuskan untuk kembali ke toko buku itu lagi, lagipula waktu masih menunjukkan pukul 16.15 masih tersisa dua jam lagi menuju waktu magrib. Beberapa menit kemudian sampailah aku kembali pada toko buku itu, buku yang membuatku penasaran tadi telah habis ku lumat dengan membacanya selama satu jam, bila di hitung hitung harga buku itu hanya satu jam. Murah bukan,?? Niat hati ingin segera pulang mata ini kembali memandang sebuah buku yang di bagian depan sampulnya terdapat foto seorang berpakaian kaos putih celana pendek dengan rambut yang awul awulan tak tertata rapi namun ia sangat jenius dan berpengaruh di dunia di masa perang dunia kedua, siapa lagi dia kalau bukan albert einsten. Saat itu konsentrasi ku benar benar tertuju pada buku tersebut lingkungan sekitar tak sedikitpun ku perhatikan. Bagaimana albert einsten menemukan temuan temuan luar biasa mengenai ilmu ilmu di bidang fisika khususnya mengenai bagaimana ia mengatakan dengan teorinya bahwa grafitasi (matahari) mampu membelokkan cahaya, mengenai teori relatifitasnya dan lain lain. Dan yang masih teringat di fikiranku bagaimana dia membantu dalam mengakhiri perang dunia ke dua yang di mulai tahun 1939 antara poros jerman dkk dengan poros amerika dkk. Ia mengetahui usaha jerman yang kala itu sedang berusaha membuat bom atom, karena khawatir jerman akan berhasil ia menghimbau presiden Franklin D. Roosevelt untuk membuatnya lebih dulu di amerika. Presiden menyetujui dan akhirnya amerika berhasil menjadi negara pertama yang membuat dan menggunakan boom atom, pada bulan itu juga perang dunia pun berakhir.
Di saat sedang terlarut dalam membaca sedikit perjalanan hidup tentang einsten tiba tiba saja terdengar suara buku jatuh kelantai dan teriakan lirih seorang wanita yang juga ikut terjatuh. di tempat seperti ini suaranya sengaja ia tahan untuk tetap lirih untuk menjaga suasana ruangan tetap tenang. Melihatnya, segera aku menolong namun hanya bisa mengambilkan bukunya yang terjatuh. karena tak mungkin aku menyentuhnya, islam mengajarkanku bagaimana batasan batasan terhadap lawan jenis yang bukan muhrim. sekilas aku melihat, buku itu berjudulkan “komik hidroponik” sebuah buku yang telah membuat aku penasaran untuk membacanya sehinngga aku kembali ke toko ini setelah shalat ashar tadi. Bergegas wanita itu segera berdiri di saat usahanya untuk berdiri pandangan matanya tertuju padaku yang saat itu dalam posisi jongkok mengambil sebuah buku hingga wajah ku dengan wajahnya dalam posisi sejajar kami saling bertatap muka sedikit ia tersenyum, menarik melintang garis senyumnya beberapa cm ke kanan dan ke kiri subhanalloh baru saja aku menyaksikan senyuman yang indah senyuman yang semakin mendekatkan pandangan mataku seolah hanya beberapa cm saja dari wajahnya. Aku mulai baper. Dengan perasaan nerveous aku berusaha membalas senyumnya “mbak gak papa?” tanyaku pada nya. Setelah ia sempurna berdiri terlihat dengan sempurna jua bagaimana ia berbusana, begitu sopan dan muslimah menggambarkan sosok yang sangat memahami agama, islam tentunya.
“gak mas, gak papa”
“kok bisa jatuh kenapa mbak?”
“gak papa mas tadi Cuma mau ambil buku itu” (menunjuk ke salah satu buku di susunan rak teratas)
“Oo,, buku itu, biar aku ambilkan mbak, ini bukunya tadi yang jatuh” sembari menyerahkan buku yang berjudul komik hidroponik itu padanya namun ia tak semerta merta menerimanya. Tanganya tak ingin secara langsung menerima buku itu dari ku. Ia meletakkan tangannya beberapa cm di bawah buku yang aku sodorkan padanya, ya aku mengerti maksudnya, segera saju aku menjatuhkan buku itu ke telapak tangannya tanpa tangan kami secara bersama sama menyentuh buku itu. Semakin memperkuat dugaan ku sebelumnya. “bentar ya mbak” sejenak aku terdiam mengira ngira apakah aku bisa menggapai buku itu, tak terlalu tinggi tempatnya namun karena di bawah rak terdapat buku yang di susun hingga membentuk emperan membuat badanku tidak bisa berdiri pas menempel pada rak sehingga sedikit sulit di jangkau. Ku ulurkan tangan menuju buku itu, ternyata benar saja badan akan cenderung condong ke depan sehingga memerlukan otot yang kuat untuk dapat mempertahankan tubuh dalam posisi seimbang. Bagiku yang rajin berolah raga tentu ini bukanlah masalah yang berarti berbeda dengan seorang wanita ini yang jarang melatih ototnya. Buku itu pun dapat aku ambil dengan mudah lalu memberikan padanya
“ini mbak buku nya”
“terimakasih ya mas”
“iya sama sama” sambil ia menatap mataku dengan di sertai senyum indahnya, entah apa yang merasuki ku saat itu tiba tiba saja otakku tak mampu mengendalikan kemana harusnya kepala, tangan, kaki, dan tubuhku bergerak. Atau orang sering menyebutnya salah tingkah. Aku lihat dirinya tak jauh beda dengan apa yang aku rasakan, terlihat jelas ia tak mampu mengendalikan pandangan matanya berkeliaran kesana kemari. Di sudut sebelah kanan di ruangan tempat aku berada terlantunkan sebuah syair cinta ikut andil dalam memperindah kesan pertama pertemuan kami, terlantun dengan nada nada indah yang mengalir lembut kedalam hati merasuk dalam ke dalam jiwa.
Setiap mendengar lagu itu, selalu mengingatkan ku tentang annisa si gramedia women.
Lagu itu cukup aku saja yang tahu.
Komentar