Langsung ke konten utama

INgin Jadi Tentara

TENTARA
Kami duduk rapi di kursi masing masing, di depan kelas ibu guru kami satu persatu bertanya pada kami tentang cita cita. Waktu itu aku masih duduk di taman kanak kanak. Soal cita cita di masa kecil pasti kita punya selera yang sama, selera yang luar biasa. Andi apa cita cita kamu? Menjadi se orang pilot bu. Putri? Menjadi se orang dokter bu? Saiful? Menjadi polisi bu. Satu persatu kawan ku menjawab dengan suara lantang mereka yakin suatu saat cita cita itu akan terwujud.
Sekarang giliranku, aku dan beliau seperti se orang ibu dan anak. Beliau adalah guru yang paling pagi sekali datang nya ke sekolah ke timbang guru guru yang lain dan aku adalah manusia sekaligus murid yang lebih pagi lagi datang nya dari pada teman teman dan guru ku. Aku hafal dari mana beliau akan muncul saat pagi pagi tiba di sekolah, ia selalu muncul dari sudut sekolah arah terbit nya matahari saat aku duduk menanti nya di tembok panjang halaman sekolah. Se ketika melihat nya kami sama sama antusias menyambut, aku berlari ke arah nya sedangkan beliau membuka lebar lebar kedua tangan nya sembari menahan beban tas cangklong berukuran besar yang beliau cantol kan di bahu kanan nya. Membungkukkan sedikit badan nya hingga kami mudah ber pelukan. Setiap pagi hampir tak pernah terlewatkan se hari pun.
Beliau ada lah bu nanik, begitulah aku memanggil nya. Ia mendekat, memelankan suara nya. Oding jika besar kelak apa cita cita mu. Dengan suara pelan dan pasti. Menjadi se orang tentara bu. Saat di tanya apa alasan nya bibir ku tak mampu berucap tak seperti teman teman ku jika di tanya, mereka akan sangat antusias sekali menjawab. Berebut. Terlalu banyak sekali alasan untuk di ungkap kan, aku tak tau memulai nya dari mana, sejak taman kanak kanak aku telah jatuh cinta pada seorang kapiten, jatuh cinta pada garuda pancasila, jatuh cinta pada pada mu negri, jatuh cinta pada tanah air ku dan juga jatuh cinta pada INDONESIA RAYA. maka ketika aku menyanyikan nya semangat ku membara, suara ku lantang, selalu ingin berdiri di barisan depan untuk Indonesia.Aku ingin jadi tentara.
suatu hari bersama ayah di dalam kamar kami berdua berbaring telentang menatap langit langit atap. ini adalah moment yang luar biasa moment di mana rindu ku selama setiap 365 hari terbalaskan, aku banyak cerita pada nya, tentang sekolah ku dan juga cita cita ku. Maka setelah mendengar nya ia berjanji setelah ia kembali ke kalimantan ia akan membelikan ku baju tentara, baju itu nanti nya akan di kirim kan nya via pos. Ia kembali memastikan bahwa baju itu akan tiba sebelum bulan agustus, sebelum perayaan karnaval 17 agustus. Janji itu membuat ku bahagia bukan kepalang, aku tak sabar ingin segera mengenakan nya pada karnaval 17 agustus nanti. Hari hari penantian begitu terasa amat lama, berkali kali ku tanya pada nenek soal baju itu selalu saja di jawab belum ada di kantor pos menyuruh ku bersabar mungkin ayah ku sedang kesulitan mencari baju itu di Kalimantan, atau mungkin kantos mengalami keterlambatan dalam pengiriman. Sering kali aku melintas di depan kantor pos, tak jauh lokasi nya dari rumah ku. Bahkan Duduk melamun di tembok depan pintu gerbang kantor pos. Meratapi kardus kardus berisi barang barang kiriman yang ter tumpuk tumpuk, berharap salah satu dari kardus itu adalah baju tentara ku. Baju tentara, aku ingin segera melihatnya di kantor pos aku ingin segera mengambil nya, memakai nya di hari karnaval 17 agustus.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beladiri dan kemenangan

Beladiri dan kemenangan Merujuk pada sabda Nabi Muhammad Saw pada sebuah hadist yaitu Bukhori dan Muslim yang menyebutkan ajarkanlah anak (laki laki) kita berkuda memanah dan berenang. Pastilah mempunyai alasan mengapa tiga hal tersebut diatas di anjurkan untuk anak anak kita dan kita para lelaki khusus nya. Tidak hanya sebagai olahraga yang kita peroleh manfaat nya berupa kebugaran tubuh dan kesehatan, di lain daripada itu adalah dasar kemampuan  kita dalam membela diri dari suatu ancaman yang tidak kita duga. Jadi,,, sudah barang wajib to bagi lelaki memiliki kemampuan dasar membela diri terlebih lelaki adalah calon calon kepala rumah tangga bagi yang belum berumah tangga seperti saya yang sekaligus juga pelindung bagi keluarga tercintanya. Luas daripada lingkup rumah tangga adalah kesiapan kita sebagai seorang muslim yang jugalah wajib menjadi barisan terdepan sewaktu waktu perang terjadi. Loh kan perang Pake teknologi canggih? Iya juga ya... Tapi tunggu dulu, merujuk pada seb...