Langsung ke konten utama

Kami Harus Kuliah!!!

Kami harus kuliah...

Hari ini adalah perayaan atas ke suksesan kami menundukkan ujian nasional dengan nilai yang cukup memuaskan, paling memuaskan adalah nilai rendra setelah pak salim wali kelas kami mengumumkan bahwa nilai rendra tertinggi di kelas, tertinggi dari seratus dua puluh siswa siswi kelas duabelas sekolah kami. Sementara aku berada di peringkat enam, kasen peringkat sepuluh dan vino delapan. Soal nilai tertinggi rendra memanglah pelanggan setia di kelas kami, prestasinya tak melulu soal nilai selain dari itu sudah berkali kali rendra mengharumkan nama sekolah kami dalam berbagai ajang perlombaan akademik antar siswa dari tingkat kota, provinsi, hingga nasional bahkan rendra pernah mengemban tugas sebagai salah satu dari tiga puluh delegasi siswa kalimantan timur dalam pertukaran pelajar dengan negeri samurai. Dia lah sekaligus pembangga panti asuhan dalam momen ujian nasional kali ini, tak terkecuali kami bertiga yang bisa di bilang jugalah mendapat nilai yang baik. Soal pembangga panti asuhan, kasen dan vino memiliki cara tersendiri yaitu dengan melejitnya prestasi mereka di bidang olahraga. Bola voly adalah yang membuat nama vino hingga ke kancah nasional sebagai salah satu atlet yang memperkuat team voli kaltim tingkat pelajar, sementara Kasen ia adalah salah satu lumbung gol bagi kesebelasan team sekolah kami yang sering menjadi langganan juara dalam setiap kompetisi sepak bola antar sekolah sekabupaten kota bahkan pernah hingga provinsi, kesuksesan Kasen tak lepas dari peranku yang seringkali memberi asist di daerah gawang lawan. Ya, kami berdua adalah duet maut penyerang lini depan.

Bunda lena dan kak esa pastilah bangga memiliki kami berempat dan tak menyesal telah sudi merawat kami semenjak kecil. Lebih bangga lagi karena kami berempat telah menempatkan bunda dan kak esa di bangku deretan paling depan sebagai orang tua atau wali murid dalam serah terima rapot sekaligus acara kelulusan siswa siswi kelas dua belas. Selain itu bunda lena juga di tunjuk oleh kepala sekolah mewakili wali murid dalam memberikan sambutan dan berbagi cerita soal di balik kesuksesan kami berempat. Jikalau bunda dan kak esa bisa memeluk kami pastilah mereka akan memeluk kami, tapi sayangnya kami sudah beranjak dewasa.

Kesuksesan demi kesuksesan yang di peroleh dalam setiap mengarungi kehidupan tak berarti akan membuat lebih mudah kembali meraih kesuksesan yang lain. Tapi melalui jenjang jenjang kesuksean itu kami memperoleh pelajaran bahwa setiap usaha yang di lakukan pastilah membuahkan hasil yang sepadan. Malam ini kami benar benar termenung setelah berbahagia menikmati hari hari euphoria kelulusan sekolah beberapa minggu yang lalu, kami benar benar tersadar bahwa tantangan sebenarnya dalam hidup telah menanti dan menantang kami tepat di depan mata kami. Terlebih sebagai anak panti tentulah perjuangan ekstra menjadi tuntutan yang harus kami lakukan demi masa depan yang baik untuk kami, bunda lena, kak esa dan panti yang kami yakin suatu saat akan menjadi panti yang besar, panti yang menaungi anak anak bernasib serupa kami. Kami tak bisa lagi terlalu berharap pada bunda lena soal biaya pendidikan, sementara memenuhi kebutuhan panti saja membutuhkan pengorbanan dan perjuangan yang bisa di bilang tak mudah meskipun secara rutin setiap bulan nya pak robi ketua rt kami memberi bantuan untuk kelangsungan hidup di panti.

Kasen beranjak dari kasur tempat kami berempat berbaring, bercerita lebih kepada keluh kesah berjalan menuju jendela kamar sembari menatapkan pandangan matanya jauh ke depan, ke atas, kelangit. Beberapa menit setelah termenung ia membalikkan pandangan nya kearah kami, pandangan nya menatap kami dengan serius. Kami mengerti maksud nya, kami pun sebenar nya jugalah memikirkan nasib kami, memikirkan mimpi mimpi kami untuk dapat berkuliah di tengah keterbatasan hidup kami. Terlalu lelah rasa nya walaupun hanya sekadar memikirkan nasib dan mimpi kami yang jauh lebih besar dari kemampuan yang kami miliki. Cukuplah bagi kami hanya menatap langit langit atap sebagiann kecil dari langit bumi yang luas berpendar ke segala penjuru arah.

Tidak!!! Kasen bersuara, Seolah Kasen mengerti apa yang sedang kami pikirkan adalah tak ada yang lain selain soal keluhan.
"Hey kalian!! Beranjaklah dari kasur, cepat lah kemari"
Aku, rendra dan vino pun beranjak memenuhi panggilan Kasen, berjalan menuju jendela. Kasen menyingkirkan badan nya ke arah belakang kami membuat kami bertiga memenuhi ambang jendela. Menatap langit yang malam ini di penuhi oleh sinar sinar bintang yang berkerlap kerlip di kejauhan sana.
"Kita harus kuliah!!"
Ucap Kasen di balik badan kami.
"apa kau punya rencana agar kami bisa kuliah sen?"
"mengapa harus kau yang bertanya pada ku ren, bukan kah kau paling pintar diantara kami?"
"kita tak memiliki uang untuk kuliah, tak boleh lagi kita berharap pada panti. Yang kita miliki sekarang hanyalah waktu dan potensi"
"apa yang kau maksud vin?" aku belum mengerti maksud vino.
"kita harus bekerja selagi waktu masih tersisa sebelum pendaftaran kuliah di buka."
"Apakah jiwa kalian sekarang sudah bangkit?" tanya Kasen kepada kami dengan tatapan mata yang dalam.sembari tangan kanan nya menepuk satu persatu dada kami.
"Tengok lah bintang bintang nun jauh di sana!," kasen mengarahkan tangan kanan nya keluar jendela, lantas serempak kami melihat bintang bintang yang berkerlap kerlip.
Kasen melanjutkan bicara nya "kita tak perlu takut untuk bermimpi, bintang bintang itu adalah mimpi kita di sanalah letak mimpi kita, tak satu pun orang yang tahu selain kita dan sang pencipta. Sejauh bintang itu berada sejauh itu lah mimpi di benak kita, sekalipun jauh kita bisa melihat nya, merasakan nya di setiap malam yang dengan keindahan keindahannya menjadi bahan bakar untuk semangat yang terus membara pantang menyerah demi sebuah Harapan yang kami percaya tuhan tak akan ingkar janji terhadap hambanya yang berusaha meraih mimpi."
Kau benar sen, semangat membara salah satu penakluk logika. Ucap vino. Serempak kami membalikkan badan menatap mata kasen. Entah hantu apa yang merasuki vino, tiba tiba saja ia terperanjat dari kami berlari sembari berteriak kencang "yeeeaaaah". Vino menghidupkan amplifier duabelas volt rakitan kami, ucapan Kasen berdampak spontan ke jiwa vino, sepertinya begitu. Mencolok headseat audio amplifier ke Handphone. Sesaat setelah mencari lagu, tombol volume pun berputar full arah jarum jam. Terdengar sebuah nada yang tak asing di telinga kami.

Ayo kawan!!! vino kembali berteriak, menyabet sebuah sapu di balik pintu. Kami tak dapat menolak nada nada itu kami pun turut serta menggila di malam yang kian larut dalam sebuah kamar panti yang bangunan nya berdiri di atas bukit. Aku lolongkan kepala keluar jendela sembari bernyanyi. Suara kami menghiasi malam, memecah kesunyian dalam semangat membara. Akhir yang manis saat kami berempat berangkul bahu di ambang jendela sambil menatap langit tempat kami menggantungkan mimpi.

Semangat membara kami meningkahi setiap lirik lirik dalam lagu lentera jiwa.

Lama sudah kumencari
Apa yang hendak kulakukan
Sgala titik kujelajahi
Tiada satupun kumengerti
Tersesatkah aku di samudra hidupmu

Kata-kata yang kubaca
Terkadang tak mudah kucerna
Bunga-bunga dan rerumputan
Bilakah kau tahu jawabnya
Inikah jalanku inikah takdirku

Chorus:
Kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
Yang slalu membunyikan cinta
Kupercaya dan kuyakini murninya nurani
Menjadi penunjuk jalanku
Lentera jiwaku

Kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
Yang slalu membunyikan cinta
Kupercaya dan kuyakini murninya nurani
Menjadi penunjuk jalanku
Lentera jiwaku

Kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
Yang slalu membunyikan cinta
Kupercaya dan kuyakini murninya nurani
Menjadi penunjuk jalanku
Lentera jiwaku

Lentera jiwaku
Lentera jiwaku
Kupercaya dan kuyakini murninya nurani
Menjadi penunjuk jalanku

Lentera jiwaku
Lentera jiwaku
Lentera jiwaku
Lentera jiwaku...

Setelah peristiwa malam itu tak ada lagi yang kami cemaskan, pagi ini tanpa komando kami tau apa yang harus kami lakukan. Masing masing kami berpencar dengan segala keyakinan dan kemampuan yang kami miliki mencari rezeki guna uang pendaftaran kuliah yang tersisa tiga bulan lagi. Aku, rendra, kasen dan vino telah berpamitan pada bunda lena dan kak esa bahwa selama tiga bulan ini jangan bertanya dan mencari kami jika kami pulang tak tau waktu atau bahkan tak pulang ke panti. Kami telah menjelaskan maksud kami mengenai uang pendaftaran kuliah yang kami butuhkan tiga bulan lagi, tentang keinginan kami kuliah di universitas negeri. Kami hendak menjemput mimpi membiarkan lentera jiwa kami menuntun jalan hidup kami.

Setelah kami mengetahui bahwa Mencari uang ternyata tak mudah bagi kami oleh karena pengalaman dan kemampuan yang tak mumpuni selain dari pada itu kami juga lah tak bisa bekerja menetap mengingat kami hanya bekerja selama tiga bulan. Al Hasil Kami malah justru mengurungkan niat berpencar, malu pada acara sakral pamitan yang seolah kami benar hendak pergi. Empat anak panti bekerja serabutan sebagai kuli bangunan, jasa mengecat rumah, jasa kurir, kuli angkut di pergudangan di dermaga sungai, pencuci motor, berkeliling menjual dagangan kue kak esa dan pelayan di warung warung nasi goreng. Itu lah pekerjaan kami selama tiga bulan yang membuat badan kami lelah dan sering pulang larut malam dengan hasil yang jika di akumulasikan dari kami berempat bernilai dua puluh juta lima ratus lima puluh ribu rupiah.

Setelah kami lolos dalam setiap tahapan tes seleksi masuk universitas, dengan uang itu lah akhirnya kami benar benar di nyatakan sah dapat berkuliah di salah satu universitas negeri ternama. Satu jalan keberhasilan yang mewujudkan nya tak semudah bagi anak anak berkecukupan ekonomi. Sementara rendra tak seberuntung kami kecuali ia jauh lebih beruntung yang secara diam diam merahasiakan keberhasilan nya meraih beasiswa berkuliah di salah satu negeri ternama di Pulau jawa. Setengah dari Dua puluh juta lima ratus lima puluh ribu rupiah adalah jerih payah rendra, dia lah yang selama kita mencari biaya kuliah yang paling banyak berkorban tenaga fikiran dan waktu yang sering kali membuat nya pulang larut malam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beladiri dan kemenangan

Beladiri dan kemenangan Merujuk pada sabda Nabi Muhammad Saw pada sebuah hadist yaitu Bukhori dan Muslim yang menyebutkan ajarkanlah anak (laki laki) kita berkuda memanah dan berenang. Pastilah mempunyai alasan mengapa tiga hal tersebut diatas di anjurkan untuk anak anak kita dan kita para lelaki khusus nya. Tidak hanya sebagai olahraga yang kita peroleh manfaat nya berupa kebugaran tubuh dan kesehatan, di lain daripada itu adalah dasar kemampuan  kita dalam membela diri dari suatu ancaman yang tidak kita duga. Jadi,,, sudah barang wajib to bagi lelaki memiliki kemampuan dasar membela diri terlebih lelaki adalah calon calon kepala rumah tangga bagi yang belum berumah tangga seperti saya yang sekaligus juga pelindung bagi keluarga tercintanya. Luas daripada lingkup rumah tangga adalah kesiapan kita sebagai seorang muslim yang jugalah wajib menjadi barisan terdepan sewaktu waktu perang terjadi. Loh kan perang Pake teknologi canggih? Iya juga ya... Tapi tunggu dulu, merujuk pada seb...