Langsung ke konten utama

Mahakam River (memory)

Sungai Mahakam
Saat aku mendengar kota Samarinda aku mengingat ayah ku, di kota itu lah ia merantau jauh sekali meninggal kan pulau jawa meninggalkan aku juga tentu nya. Ya bagi ku saat itu Samarinda adalah kota yang amat jauh, aku masih amat kecil tak mengerti bagaimana cara nya agar bisa pergi ke Samarinda. Ayah bilang harus naik bis dan mengarungi samudra dua hari dua malam, tak terbayang apakah aku sanggup.
aku mencari nya dalam peta indonesia, lebih rinci lagi peta kalimantan dan lebih rinci lagi peta kalimantan timur. Ternyata kota itu ibu kota provinsi kalimantan timur.
Satu hal lagi ketika aku mendengar Samarinda adalah teringat sungai Mahakam, dalam proses belajar mengajar di dalam kelas guru ku pernah memberi tau pada ku bahwa sungai mahakam adalah sungai terpanjang ke dua di Pulau Kalimantan setelah kapuas, mencapai kurang lebih sembilan ratus dua puluh kilo meter panjang nya. Lantas aku kembali membuka peta sepanjang apa sungai itu terlukis dalam peta, aku dapatkan angka dalam satuan cm aku kali kan dengan skala peta pulau kalimantan. Tapi aku tak percaya hasil nya, sungai itu meliuk liuk pasti angka cm ku tak benar. Sudah lah.. Aku percaya saja sungai itu sepanjang sembilan ratus dua puluh kilo meter.
Guru ku bilang suatu saat kamu pasti akan melihat sungai itu secara nyata, ayah mu akan membawa mu.
apa yang beliau kata kan se olah sebuah doa bagi nya, sebuah mimpi bagi ku, sebuah kenyataan untuk takdir ku. Setelah tamat sekolah dasar ayah ku menutus kan pergi membawa ku tinggal bersama nya di Pulau Kalimantan. Aku tak sabar, sungai mahakam, aku akan segera melihat mu.
Hari demi hari menjelang ke berangkatan aku semakin siap. Aku telah mempelajari peta, ke mana rute menuju kalimantan. 24 juni 2006 aku memulai sejarah perjalanan ter panjang ku. Menumpangi bus menuju Surabaya pelabuhan tanjung perak, kapal maritim safira bersandar di pelabuhan. Ayah ku benar 2 hari 2 malam aku ter ombang ambing mabuk laut gak karuan. Nampak samar samar sebuah pulau nan jauh di sana, tak pasti nyata atau kah hanya sebuah fatamorgana. Aku ingin segera mendarat aku tak tahan, waktu demi waktu beberapa jam kemudian mata ku memastikan pulau itu bukan lah fatamorgana. Ya pulau itu adalah balikpapan, balikpapan, aku tak salah lagi.
hari menjelang sore, aku selalu bertanya pada ayah kapan kita sampai Samarinda, bus terus melaju kanan kiri yang ku lihat adalah hutan, merasa mustahil akan ada kota lagi setelah hutan. Sebentar lagi kita sampai, sebentar lagi. Selalu kalimat itu yang aku terima saat berkali kali menanyakan hal yang sama. Aku ter sungkur di dalam bus, hari semakin gelap. Aku ter lelap.
Aku merasa laju bus semakin pelan. Ayah menepuk badan ku, Samarinda hampir sampai berkali kali ia mengucap kan kalimat itu. Bangun lah, sebentar lagi kita akan melintas jembatan mahakam. Mendengar Mahakam seketika tubuh dan kepala ku mengusir letih dan pusing yang selama perjalanan menjerat ku begitu hebat. Aku terperanjat, segera ku lolong kan kepala keluar jendela, menakjubkan malam ini aku benar benar menyaksikan sungai mahakam aku tak menyangka sungai Mahakam sebesar ini se akan menelan kota, di atas jembatan, kota Samarinda ber kerlap kerlip oleh lampu lampu yang ter hampar di seluruh bagian hingga sudut kota. Karisma sungai mahakam, aku bak di telan oleh nya, ia begitu hebat, melintas, membelah kota Samarinda menjadi dua. Maha karya tuhan yang luar biasa.
Pagi ini di taman kota, di tepi sungai mahakam, aku menuliskan memori indah itu. Matahari terbit dari ufuk timur, cahaya nya memantul mantul, gelombang gelombang kecil membuat nya menari nari, indah tak terperi. Pagi ini tuhan melukiskan sesuatu yang indah di permukaan air mu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beladiri dan kemenangan

Beladiri dan kemenangan Merujuk pada sabda Nabi Muhammad Saw pada sebuah hadist yaitu Bukhori dan Muslim yang menyebutkan ajarkanlah anak (laki laki) kita berkuda memanah dan berenang. Pastilah mempunyai alasan mengapa tiga hal tersebut diatas di anjurkan untuk anak anak kita dan kita para lelaki khusus nya. Tidak hanya sebagai olahraga yang kita peroleh manfaat nya berupa kebugaran tubuh dan kesehatan, di lain daripada itu adalah dasar kemampuan  kita dalam membela diri dari suatu ancaman yang tidak kita duga. Jadi,,, sudah barang wajib to bagi lelaki memiliki kemampuan dasar membela diri terlebih lelaki adalah calon calon kepala rumah tangga bagi yang belum berumah tangga seperti saya yang sekaligus juga pelindung bagi keluarga tercintanya. Luas daripada lingkup rumah tangga adalah kesiapan kita sebagai seorang muslim yang jugalah wajib menjadi barisan terdepan sewaktu waktu perang terjadi. Loh kan perang Pake teknologi canggih? Iya juga ya... Tapi tunggu dulu, merujuk pada seb...