Langsung ke konten utama

Menjadi Bagian

UNITED TRACTORS PART II
Beberapa langkah aku keluar meninggalkan kelas aku melihat kantor sekolah nampak ramai siswa siswa berjejer jejer menunggu antre an sembari masing masing memegang selembar kertas. Pak darma berdiri di depan pintu sembari memegang penggaris ia sedang menjaga pintu sekaligus mengatur siswa siswa yang akan masuk ke dalam nya. Setiap siswa yang akan masuk di ukur tinggi badannya, ternyata penggaris itu sebagai alat bantu pak darma untuk memperoleh nilai yang akurat pada tinggi badan setiap siswa, di tempel kan nya penggaris itu di setiap kepala siswa siswa yang akan memasuki ruangan kantor. Aku penasaran ada apa gerangan di sana, mengapa siswa yang mengantre akan masuk banyak sekali.
Aku menghampirinya nimbrung di dalam nya, bertanya pada salah satu siswa soal peristiwa yang sedang terjadi, ia bilang ini adalah tes seleksi recruitment tenaga kerja salah satu perusahaan pertambangan. Apa? Aku tak percaya. Mengapa di laksanakan secara tiba tiba seperti ini.? Iya kembali meyakinkan kan ku. Ia bilang tes ini dilaksanakan tidak secara tiba tiba sudah beberapa minggu yang lalu proses pendaftaran di lakukan. Sembari ia menunjukkan selembar kertas formulir pendaftaran nya yang di dalam nya adalah biodata dia. Padahal aku menunggu nunggu sekali kabar tes recruitment perusahaan perusahaan yang bekerja sama dengan sekolah ku mengapa aku tak mengetahui nya. Mengapa aku mengetahui nya saat tes akan segera di laksanakan. Payah!!
Segera aku menghampiri pak darma, memohon pada nya agar aku bisa mengikuti tes perusahaan ini. Mana formulir mu? Ia menanyakan soal formulir ku. Saya tidak punya formulir pak, maaf saya baru mengetahui soal tes ini. Apakah bapak mengizinkan saya untuk mengikuti tes ini? Sebisa mungkin aku memelas pada nya. Sial nya aku justru terlalu memelas dan getun mengapa aku terlalu memelas. Pak darma tak begitu menghiraukan soal formulir siapa pun bisa mengikuti tes ini meskipun tanpa formulir asal se orang siswa SMKN2 Samarinda dengan jurusan sesuai yang di butuhkan sebagai se orang mekanik. Apa jurusan mu? Elektronika pak. Sejenak ia berfikir, elektronika ya? Iya pak. Oke kamu bisa ikut tes. Perasaan harap harap cemas berubah menjadi senang seketika. Aku tak banyak basa basi lagi segera aku meminta nya mengukur tinggi badan ku.
Ini adalah tes tahap awal tak perlu memiliki ke ahlian khusus, sebuah tes yang lolos tidak nya telah di tentukan mutlak oleh gen kita sendiri. Jika ayah dan ibu mu maaf (pendek) aku pastikan kau ber kemungkinan besar tak lolos tahap awal ini, namun jika salah satu dari kedua orang tua mu jangkung masih ada harapan meskipun juga harap harap cemas. Pak darma menempelkan penggaris di tangannya ke kepala ku saat aku berdiri mepet di daun pintu. 166 teriak nya, yeah aku lolos. Aku berlari keluar ruangan, aku tak salah arah, aku tak boleh langsung masuk ke ruang tes. Aku harus mengabarkan perihal tes ini pada teman teman ku, mereka sedang melaksanakan proses belajar mengajar di dalam kelas.
Saat itu aku keluar kelas karena niat ku ingin membolos jam pelajaran bahasa inggris karena tiga nama lagi giliran ku untuk maju ke depan kelas guna mengoceh menggunakan bahasa inggris sedangkan bahasa inggris ku kacau balau tak pernah fasih mengucapkan kata kata bahasa inggris, semasa kecil lidah ku tak pernah di latih berbahasa inggris selain itu suaraku terlalu mengebas.
Ku ketuk pintu kelas, guru bahasa inggris sedang duduk di kursi nya, ku sampaikan maksud ku soal tes itu. Beliau memberi izin akhirnya proses belajar mengajar bahasa inggris pagi ini selesai, hampir seluruh teman teman ku keluar kelas segera mengambil nilai genetika mereka pada pak darma, tak semua dari kami yang beruntung sebagian tak memenuhi angka 165. Terkadang kita memang harus menerima sebuah keputusan yang tidak kita harapkan bukan karena sebab rendah nya kemampuan kita melainkan karena secara langsung Allah sendiri yang berkehendak melalui postur tubuh hambanya. Meskipun segala sesuatu tetap Allah yang menentukan, nyata nya gagal oleh karena postur tubuh amat menyakitkan gaees....
Di lantai dua ruang kantor sekolah kursi telah ter susun berbaris baris tak ada aturan dalam menempatinya selain aturan bahwa siapa yang datang duluan dia lah yang berhak duduk dikursi bagian paling belakang. Sial bagi ku, tak ada pilihan lain selain barisan kursi paling depan. Aku telah kehilangan satu faktor sukses menghadapi ujian. Ruangan hampir penuh, seorang wanita setengah muda sibuk mempersiapkan kertas kertas yang baru di buka nya dari kardus menyusun nya rapi di atas meja depan ruangan. Aku kembali sial, aku kembali menyadari kehilangan satu faktor sukses menghadapi ujian yaitu tak ada persiapan sama sekali, seharusnya bila hari ini ujian setidak nya se malam aku lembur membacaa buku sebanyak mungkin. Sudahlah tak ada waktu lagi memikir kan faktor sukses itu, tidak ada pilihan lain selain berkomat kamit mengucap dzikir menyerahkan semua pada kehendak Allah.
Aku semakin erat menggenggam kedua tangan ku yang sejak tadi telah saling bergenggaman. Ruang ini ber ac. Aku yakin aku bisa. Allah telah mengatur skenario indah untuk ku, ke sialan adalah salah satu faktor indah nya sebuah hidup meskipun ia bukan lah faktor sukses menghadapi ujian. Yeah... Aku semakin yakin.
perempuan setengah muda itu mengheningkan suasana kelas tak ada lagi suara hiruk pikuk para siswa yang sedang mengobrol, berdiskusi. mengambil alih kendali seluruh pasang mata kini tertuju pada nya yang berdiri di depan ruangan memegang sebuah spidol dan berdiri sebuah papan tulis di dalam nya. Assalamualaikum wr wb. Perkenalkan nama saya adalah erminawati atau sering di panggil ibu ermin. Perempuan itu menjelaskan soal tata cara melaksanakan ujian. Jelas??? Kami serempak menjawab jelassssss!!!!!!.
Di bantu rekan rekannya bu ermin membagikan soal pada seluruh peserta tes. Empat buah soal lembar kertas yang di staples jadi satu berada di kursi ku. Jantung ku mulai berdebar se olah aku berjalan dalam ke gelapan dan tak mengerti Medan. Aku merasa satu satu nya siswa ter malang di ruangan ini, saat aku benar benar berharap berhasil lolos dalam tes ini lalu kemudian bekerja. Tak ada pilihan lain selain bekerja setelah aku lulus smk meskipun hati memilih melanjutkan pendidikan di bangku kuliah, ekonomi orang tua ku tak akan mampu menjadi kan ku se orang MABA. Jangan kan uang kuliah, spp ku saat itu saja menunggak berbulan bulan akhirnya ijazah ku di tahan sampai spp ku benar benar lunas terbayar.
Membuat ku nekad mengorbankan harga diri, saat itu aku dan dua kawan ku yang bernasib tak jauh beda berencana akan bersama sama menebus ijazah. Kami berencana menebus nya hanya dengan uang seratus lima puluh ribu rupiah kami merundingkan nya di depan pintu sebelum masuk ke ruang pembayaran spp. Aku paling banyak soal menunggak itulah sedikit perbedaan nasib kami, kami pun sepakat aku akan membayar di urutan terakhir segala tipu muslihat telah kami persiapkan, memelas dan akhirnya nomor satu berhasil meskipun ibu itu sedikit gusar wajah nya giliran nomor dua kembali berhasil dan ke gusar an ibu itu semakin meningkat, sekarang giliran nomor tiga (aku) ibu itu tak akan bisa menolak ku aku sendiri telah menyaksikan dua orang teman ku yang berhasil meskipun uang yang di bayar tak sesuai dengan banyak nya bulan yang menunggak. Ibu itu mencari nama ku dalam buku daftar spp siswa. Oding? Iya buk. Tujuh bulan ya?. Iya bu, tapi... Belum sempat aku melanjutkan pembicaraan ku ibu itu yakin betul pasti aku adalah sejenis dengan nomor satu dan dua. Dua lembar uang kertas seratus dan lima puluh ribu yang di liat nya di tangan ku semakin menambah keyakinannya, lantas ia melakukan ekspresi seperti ekspresi yang di tujukan pada kedua teman ku sebelum nya. Namun ekspresi ke tiga kali ini lebih greget MasyaAllaaaaaahh!!!!!!! Teriak nya sembari seolah menjungkalkan tubuh nya ke belakang. Aku tak bisa berbuat banyak selain diam menunggu sampai ibu itu benar bonar menulis lunas di buku daftar spp siswa. Ijazah pun berhasil kami tebus. Mengingat itu aku tak ingin gagal dalam tes kali ini. United Traktor, aku harus menjadi bagian dari perusahaan pertambangan itu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beladiri dan kemenangan

Beladiri dan kemenangan Merujuk pada sabda Nabi Muhammad Saw pada sebuah hadist yaitu Bukhori dan Muslim yang menyebutkan ajarkanlah anak (laki laki) kita berkuda memanah dan berenang. Pastilah mempunyai alasan mengapa tiga hal tersebut diatas di anjurkan untuk anak anak kita dan kita para lelaki khusus nya. Tidak hanya sebagai olahraga yang kita peroleh manfaat nya berupa kebugaran tubuh dan kesehatan, di lain daripada itu adalah dasar kemampuan  kita dalam membela diri dari suatu ancaman yang tidak kita duga. Jadi,,, sudah barang wajib to bagi lelaki memiliki kemampuan dasar membela diri terlebih lelaki adalah calon calon kepala rumah tangga bagi yang belum berumah tangga seperti saya yang sekaligus juga pelindung bagi keluarga tercintanya. Luas daripada lingkup rumah tangga adalah kesiapan kita sebagai seorang muslim yang jugalah wajib menjadi barisan terdepan sewaktu waktu perang terjadi. Loh kan perang Pake teknologi canggih? Iya juga ya... Tapi tunggu dulu, merujuk pada seb...