MEA
Isu soal MEA sudah tidak asing lagi kita dengar, bagi yang belum tau apa itu MEA? Saya akan memberi sedikit penjelasan. MEA adalah Masyarakat Ekonomi Atas jadi segala sesuatu yang ada di dalam nya adalah segala sesuatu yang membahas tentang masyarakat ekonomi atas alias kaum elit. Merumuskan segala macam upaya untuk meningkat kan ekonomi kaum elit sehingga kaum menengah dan ke bawah musnah. Dampaknya negeri ini seluruh nya di huni oleh kaum elit dan indonesia bebas dari kemiskinan. Horeee...
Apakah anda percaya soal penjelasan saya? Maaf bila saya ber dusta. Namun membahas MEA secara jujur jauh lebih mengerikan gaes. (Berpotensi lebih mengerikan) Secara jujur MEA adalah (ini kesah nya saya menjelaskan secara jujur ya) masyarakat ekonomi asia. Mendengar kata asia pikiran kita langsung mengingat nama negara negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, Myanmar, dan masih banyak lagi jika mau jauh ke utara.
Apa hubungan nya dengan ekonomi? Karena kata depan sudah di awali oleh kata masyarakat jadi kesimpulan nya di dalam ekonomi yang menjadi pelaku nya (masyarakatnya) adalah seluruh orang orang yang ada di asia tanpa ada batasan alias memperoleh ke bebasan. Jadi bukan hanya orang orang yang ada di Indonesia aja ya yang boleh melakukan kegiatan kegiatan ekonomi di dalam negeri kita. Sepakat?
Senin 01 februari 2015 seperti biasa aktivitas pagi yang selalu rutin aku jalani adalah apel pagi. Kebetulan aku bekerja di instansi pemerintahan (Setdaprovkaltim) simpelnya kantor gubernur kalimantan timur bagi yang kurang tau. Pagi itu salah satu asisten (pejabat eselon II) memberi amanat dalam kegiatan apel, ceramah maksud nya. Saat itu beliau mengambil tema soal MEA, apa yang beliau utara kan soal MEA cukup mencengangkan, mencengangkan bukan oleh karena sebuah prestasi bangsa melainkan oleh karena bagaimana manusia manusia dari negara tetangga telah masuk ke Indonesia dan mulai ambil bagian pada pekerjaan pekerjaan yang ada di Indonesia bahkan tak ada lagi pilah pilih bagi mereka untuk mengambil pekerjaan. Di jelaskan oleh beliau sudah ada manusia manusia dari negara tetangga yang bekerja sebagai sopir sopir bahkan kuli angkut di pasar pasar daerah jawa khusus nya dan bisa di bilang tidak sedikit jumlah nya. Nah loh... Di saat masyarakat kita masih banyak yang menganggur masyarakat tetangga malah mendapat pekerjaan di negara kita. Itu baru sebagian kecil pekerjaan yang telah di ambil alih oleh masyarakat tetangga gimana jika terus merambah hingga ke pekerjaan pekerjaan yang lain dan yang lebih tinggi? Kebetulan Indonesia adalah negara potensial yang menjadi sasaran para pelaku MEA. Hanya kita yang bisa menjawab.
Kita tidak bisa mencegah atau pun menolak ke datangan mereka karena ini sudah mendapat kesepakatan dari negara. Apakah kita bisa menolak jikalau mereka sendiri mahir bahasa indonesia dan mengerti terhadap budaya kita, sementara kita tak lagi mampu membedakan.
tidak ada pilihan lain selain turut berkompetisi, namun ke cenderungan masyarakat kita kaum muda khusus nya banyak yang menyimpan rasa gengsi. Gengsi merupakan salah satu penyakit yang pasti di dera oleh setiap pemuda tak ter kecuali saya. Namun sampai kapan membiarkan gengsi itu menjadi sebuah penyakit? Sampai kita benar benar menyadari gengsi telah merenggut perekonomian kita. Di saat ada peluang bekerja atau berwirausaha kita justru memilih diam, ada peluang saja diam apalagi di suruh menciptakan peluang? Tambah diam. Saat ini indonesia sendiri membutuhkan wirausahawan wirausahawan baru guna menekan angka kemiskinan. Masih mau ber gantung pada perusahaan perusahaan? sedang kan perusahaan perusahaan sekarang banyak yang kolaps.
Itu baru arus bebas ketenagakerjaan, belum lagi arus bebas jasa, barang, modal dan investasi. Bersiap negara kita akan di hantam ber tubi tubi. Di saat MEA tak lagi mampu di bendung dan masyarakat kita sebagai konsumen ekonomi lebih memilih profesionalitas, pelayanan prima, dan harga murah ke timbang prinsip per temanan atau cintailah produk produk dan pelayanan dalam negeri. Sial nya lagi jika kita kalah telak bersaing dan berinovasi.
Mungkin mereka akan membuat jasa cukur dengan cukup menekan angka call centre plus bonus cukur bulu kelek. Mungkin barang mereka seribu dapat lima sedangkan barang kita seribu dapat tiga. Mungkin mereka mampu bekerja sehari 12 jam sedangkan kita 8 jam. Mungkin mereka bersedia menerima upah rendah sedangkan kita jual mahal. Itu baru pekerjaan di tingkat bawah bagaimana dengan pekerjaan di tingkat atas apakah para pebisnis pebisnis kita mampu bersaing?. Mungkin MEA Akan memengaruhi sistem pemerintahan kita dengan adanya naturalisasi pegawai pegawai negeri sipil dan pejabat pejabat negeri. Ngeri... Wah ini mengancam saya. tenang ini hanya sebuah khayalan saya. Toh mengendalikan sistem pemerintah tak butuh khayalan saya, cukup kuasai perekonomian di negara tersebut.
Mungkin saya terlalu berlebihan soal MEA, tapi bagaimana jika benar terjadi?. menutup nutupi dan selalu menganggap zona dalam keadaan aman akan berbahaya gaes.
Ayo pemuda pemuda kita bangkit, tinggal kan paradigma paradigma lama dan ciptakan paradigma paradigma baru yang mampu mendongkrak semangat ber wirausahawa kita.
Komentar