Surat pernyataan.
Dan lagi aku melakukan sebuah pelanggaran, saat sebelum nya aku telah mengetahui sikap seperti apa yang akan aku terima bila memilih tetap memasuki ruang BAAK untuk memenuhi berkas (spp, krs, khs, dan slip pembayaran) yang di minta oleh baak, lewat batas waktu yang telah di tentukan sebagai syarat dapat mengikuti proses belajar mengajar di semester empat namun kali ini entah mengapa aku begitu taat terhadap aturan padahal sebelum nya setelah menerima sikap yang kurang mengenakkan karena lewat batas akhir, aku mengabaikan dan tidak mengumpulkan berkas yang di butuhkan baak itu begitu saja. Dan nyata nya tetap bisa mengikuti proses belajar mengajar di semester tiga. Mungkin karena seseorang telah memperjuangkan ku (Hanya Allah Yang Tahu). Dan mungkin seseorang itu atau pun Allah maklum atas kesalahan yang baru pertama kali aku perbuat maka mengulangi kesalahan dua kali adalah sebuah ketragisan yang akan aku terima, nama ku tidak akan lagi tercantum sebagai mahasiswa aktif belajar kuliah. Dan itu lah mengapa kali ini aku terdorong untuk taat terhadap aturan (tak ingin mengecewakan seseorang dan Allah sendiri).
Siang tadi aku telah mengatur rencana menyusun kalimat kalimat yang menurut ku nanti nya tidak akan membuat dan akan mencegah timbul nya emosi dari staf dan siapapun itu yang bertugas di baak. Atas ke khilafan yang sudah ku lakukan dua kali.
Dengan muka melas dan pasrah sebisa mungkin menarik simpati dan memancarkan aura positif aku mencoba menjelaskan perkara keterlambatan ku mengumpulkan berkas itu.
" assalamualaikum, permisi mas saya mau membicarakan sesuatu soal pengumpulan berkas saya yang telah lewat tempo, hal ini karena sudah berkali kali saya menemui dosen pembimbing untuk menandatangani berkas ini namun tak pernah saya mendapati dosen berada di ruangan beliau. Jika lau memang berkas saya ini sangat di perlukan dan saya mengetahui bahwa sekarang sudah lewat tempo, apa kah bisa berkas ini tetap saya serahkan tanpa tanda tangan beliau???"
Aura positif yang coba aku keluarkan sembari aku berbicara seperti nya tak memancar dengan baik, bukan karena aku tak mampu melainkan karena fikiran ku sendiri telah teracuni aura negatif sejak aku mempersiapkan kalimat kalimat sandiwara itu.
Tak ada satu pun muka toleransi yang aku harap kan, muka tersenyum maklum, muka biasa yang menganggap perkara ini juga biasa. Seluruh staf bekerja sama dengan baik soal ekspresi muka, mereka sepakat meskipun tak pernah membuat sebuah kesepakatan, artinya mereka telah terlalu sering muak, terlalu sering lelah menghadapi beragam karakter karakter para mahasiswa yang bermasalah, pengototan dan tak sadar diri selain itu juga karena sekarang adalah masa pendaftaran ulang bagi para mahasiswa, mereka telah terlalu jenuh bekerja melayani mahasiswa yang ber jubel jubel setiap hari nya mengurus daftar ulang kuliah. Itulah penyebab penyakit seribu muka itu mudah kambuh sekalipun beragam muslihat di lakukan atas pelanggaran yang telah aku laku kan ini.
Se orang perempuan jauh di ujung belakang sana tiba tiba saja terperanjat berdiri, perempuan ini tak asing, dia lah yang sebelum nya juga memarahiku habis habisan.
Hey hey!!!! Apa kata kamu,?? Susah nemuin dosen?? Siapa dosen pembimbing mu hah?? Dengan nada dan intonasi konotasi dari ibuk itu aku menjawab "pak anu buk". Kamu terlalu banyak alasan seharian penuh kemarin beliau ada di kampus ini, bahkan beliau dengan sebuah pesan saya pinta datang kemari, memberikan tanda tangan pada berkas teman teman mu ini, nada nya makin naik pitam telunjuk nya kokoh menunjuk nunjuk meja. Hanya karena itu saya merelakan 350 perak uang saya!!!! (Pulsa kirim pesan) Aku berusaha tenang tak coba melawan, karena tersangka memang tak patut melawan, karena emosi di balas emosi hanyalah menciptakan bom atom yang Nagasaki dan hiroshima bisa luluh berantakan. Bermuka datar seolah tak terjadi apa apa itulah ekspresi muka yang bisa aku tampil kan, ingin menunduk takzim namun amarah itu tak cukup menciut kan ku.
Kamu lihat kursi ini hah!!!!? Tangan nya menunjukkan kursi dan menggoyang goyang kan nya. Ini bisa saja melayang!!!! aku percaya saja soal kursi melayang itu, dengan amarah pastilah the power of terpendam tak ke sulitan mengangkat dan melempar nya kuat menuju arah ku yang sedang berada di balik kaca ter potong separuh loket pelayanan ini.
Berpasrah seperti nya tak akan menghentikan perhelatan panggung emosi ibu itu, mengapa? Apa lagi kalau bukan karena seluruh staf menunjukkan muka sepakat atas tindakan ibu itu. Begitulah manusia di saat marah dan berada dalam posisi benar di tambah lagi banyak pasang mata yang melihat nya maka emosi akan semakin menjadi jadi dan membara.
"Baik lah sudah cukup. saya mengakui bahwa saya salah dan saya telah tidak menghormati peraturan yang berlaku. Sudah ada sanksi untuk pelanggaran yang telah di lakukan manusia seperti saya. Tidak perlu terlalu di permasalahkan, saya mengerti, surat pernyataan adalah wajib bagi saya yang lewat batas tempo. Ke datangan saya adalah untuk berkonsultasi!!!. Bukan membangkitkan emosi" (ber lirih kecil dalam hati). Ucap ku mencoba mengakhiri sinetron ini.
Dan mustinya pemberitahuan soal sangsi keterlambatan itu revisi menjadi
"siswa yang terlambat menyerahkan berkas harus membuat surat pernyataan atas tanda tangan dekan plus bonus menerima caci maki romantis "
Ya sudah!!!! Kamu segera buat surat pernyataan itu atas tanda tangan dekan, jika memang kamu belum menemui dosen pembimbing mu, paraf saja berkas mu oleh dosen fakultas mu.!!!
Mata nya melotot, amarah nya masih saja kuat, perangai nya sejauh ini tak berubah membaik.
Berjalan Pelan dan membungkuk kan badan, aku benar benar bisa mengakhiri syuting episode kedua ini, "baik buk saya akan penuhi permintaan ibu", sekali lagi saya minta maaf. Maka setelah membuka pintu dan mengeluarkan diri dari ruangan itu aku benar benar terlepas dari kandang macan yang mungkin sedang PMS. Bukan,, bukan itu melainkan Perempuan Menjadi Singa.
Pelajaran nya adalah,
Jangan mengulang untuk yang ke tiga kali nya
Bawa wadai atau makanan atau apa pun itu sebagai pengikat jiwa jikalau memang sudah terlambat
jangan datang menjelang jam makan siang karena kebanyakan perut mereka lapar berdampak pada tingkat emosi
Yang paling pokok jangan lagi terlambat😂😂
Komentar