Langsung ke konten utama

Terulang, Perpisahan tujuh tahun silam

Peristiwa tujuh tahun silam saat ayahku memutuskan membawa ku ke pulau dimana ia merantau setelah aku lulus dari sekolah dasar seolah kembali terjadi. Saat itu baru pertama kalinya aku akan melakukan perjalanan jauh menuju pulau kalimantan, dan pertama kalinya pula aku harus meninggalkan banyuwangi dalam waktu yang lama. Usiaku baru lulus dari sekolah dasar. Dengan mengendari sebuah mobil, pamanku mengantar ku ke tempat di mana biasanya ke banyakan orang orang yang tinggal di kecamatan glemore kabupaten banyuwangi menunggu bus bila ingin bepergian menuju kota jember dan kota kota berikutnya setelah jember. Bukan tanpa alasan ku sebut “kota kota berikutnya setelah jember” karena jember merupakan kota yang terletak di bagian timur pulau jawa sebelum pada akhirnya bagian paling timur adalah banyuwangi atau sebutannya adalah “The sunrise of java” keren bukan. Sebuah kabupaten yang dalam berkembangnya oleh sebuah jargon "GEMA WISATA". yup. di kabupaten banyuwangi banyak sekali tempat wisata yang dapat di kunjungi, selain itu juga seringnya di adakan perayaan perayaan yang di kemas dalam sebuah agenda kegiatan tahunan sebagai daya tarik wisata tersendiri. 

Tak ada kabupaten lagi ke arah timur melainkan pulau dewata alias pulau bali bila ingin menuju bali cukup hanya dengan menyebrang selat bali menggunakan kapal fery. orang orang glemore menyebut tempat ini adalah pertelon (simpang tiga) jalan yang membentuk huruf T. Di tempat ini pula banyak di jumpai tukang ojek atau dokar (kendaraan umum menggunakan tenaga kuda) yang sedang mangkal menunggu penumpang. Garis vertikal pada huruf T adalah jalan pasar namanya, jalan menuju arah selatan dimana rumah pamanku berada bila terus keselatan akan ada pasar sebagai pusat perputaran ekonomi masyarakat glemore dan bila terus ke selatan lagi akan ada stasiun kereta api glemore yang menyediakan rute perjalanan sampai ke kota malang sebagai tujuan akhir, bila ingin ke jogja ataupun jakarta tinggal membeli tiket lagi di stasiun malang dan melanjutkan kembali perjalanan dari kota malang.

Sedangkan garis horisontal pada huruf T adalah jalan poros yang menghubungkan jember banyuwangi dan bali bila jalan terus menuju arah timur hingga menjumpai pelabuhan ketapang. Sudah stengah jam aku menunggu bus jurusan kota malang di temani oleh paman dan sepupu laki laki ku yang kala itu ikut mengantarku. berkali kali ada bus yang lewat namun bukan jurusan malang. bosan rasanya menunggu, lama menunggu fikiran terbawa lamunan akan peristiwa peristiwa kehidupan masa kecil sepuluh tahun lamanya tinggal bersama paman beserta keluarganya.

Bukan tanpa sebab mengapa aku tinggal bersama paman, polemik rumah tangga yang terjadi antara ayah dan ibuku tak dapat di hindarkan lagi meskipun keduanya menghendaki adanya jalan keluar atas polemik mereka tanpa terjadi perpisahan, namun bila takdir berkata harus berpisah maka sebesar apapun upaya yang di lakukan akan nihil hasilnya dan akhirnya perceraian itu terjadi. Hidup seorang diri bekerja sambil meramut anak meskipun hanya satu anak semata wayang tidaklah mudah bagi ayahku yang kala itu tinggal di kota samarinda kalimantan timur berstatuskan sebagai perantau, terlebih usiaku saat itu masih balita. Sadar betapa susahnya menjalani hidup seorang diri akhirnya ayah meminta nenek ku yang saat itu tinggal di pulau jawa untuk hijrah ke samarinda.

Sejak saat itulah Keberadaan nenekku menjadi pengganti peran seorang ibu yang telah pergi. Kami hidup di sebuah kontrakan yang terletak tak jauh dari sungai mahakam ayahku bekerja di sebuah pabrik kayu sedangkan untuk membantu ekonomi, nenekku berjualan dengan warung kecil kecilan, keadaan ini tak bertahan lama hanya hitungan bulan saja puncaknya saat muncul sebuah pemikiran tentang bagaimana kelak saat usiaku telah masuk pendidikan taman kanak kanak selain itu nenekku juga tak bisa tinggal lama lama di kota ini akhirnya sebuah keputusan membuatku harus berpisah dengan ayah setelah sebelumnya berpisah dengan ibu. Dengan terpaksa aku harus hijrah dan tinggal di pulau jawa banyuwangi bersama paman, bibi dan tujuh orang anaknya mereka adalah dari urutan tertua tanti gustrika sari, dian aggraini, m. Ari fauzan, m. Yusron, annisa, ayu, dan terakhir intan. Sehingga dalam satu keluarga ini terdiri dari sembilan manusia di tambah dengan aku nenek dan kakekku jadi kesemuanya menjadi dua belas, angka yang fantastik untuk jumlah penghuni keluarga yang berekonomikan pas pasan.

Paman yang bekerja sebagai seorang montir di bengkelnya sendiri tak bisa terlalu berharap mendapatkan rezeki yang lebih mengingat pekerjaan seperti ini penghasilannya tak menentu dan tergantung pada jumlah mobil yang masuk bengkel untuk menggunakan jasanya. Bibi tak tinggal diam dengan toko kecil yang bangunannya menjadi satu dengan rumah berjuang sekuat tenaga mengais rezeki, bangun pagi pagi sekali untuk membuka toko dan tutup malam malam sekali, tak ada tanggal libur di toko ini. Semua itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup dua belas manusia yang tak hanya makan namun sebagian juga memerlukan biaya untuk pendidikan. Namun sekarang setelah tujuh tahun yang lalu semenjak kepergianku toko bibi telah berkembang menjadi toko besar yang pengelolaannya di bantu oleh beberapa karyawan. **next

Itu mas ada bus seru yusron yang saat itu ikut mengntarku ke tempat menunggu bus,,, bus masih jauh keberadaannya tulisannya terlihat samar samar semakin mendekat dan mendekat tulisan itu terlihat jelas “banyuwangi – malang” segera aku mempersiapkan barang menaruhnya di pinggir jalan. Bus berhenti, dengan perasaan yang berat aku menyalami paman dan yusron untuk berpamitan sebelum masuk ke dalam bus. Glemore perlahan lahan menghilang tak mampu di jangkau oleh jarak pandang mata yang terus menjauh. Perpisahan tujuh tahun silam kembali terulang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beladiri dan kemenangan

Beladiri dan kemenangan Merujuk pada sabda Nabi Muhammad Saw pada sebuah hadist yaitu Bukhori dan Muslim yang menyebutkan ajarkanlah anak (laki laki) kita berkuda memanah dan berenang. Pastilah mempunyai alasan mengapa tiga hal tersebut diatas di anjurkan untuk anak anak kita dan kita para lelaki khusus nya. Tidak hanya sebagai olahraga yang kita peroleh manfaat nya berupa kebugaran tubuh dan kesehatan, di lain daripada itu adalah dasar kemampuan  kita dalam membela diri dari suatu ancaman yang tidak kita duga. Jadi,,, sudah barang wajib to bagi lelaki memiliki kemampuan dasar membela diri terlebih lelaki adalah calon calon kepala rumah tangga bagi yang belum berumah tangga seperti saya yang sekaligus juga pelindung bagi keluarga tercintanya. Luas daripada lingkup rumah tangga adalah kesiapan kita sebagai seorang muslim yang jugalah wajib menjadi barisan terdepan sewaktu waktu perang terjadi. Loh kan perang Pake teknologi canggih? Iya juga ya... Tapi tunggu dulu, merujuk pada seb...