United tractor part 1.
Menunggu, jenuh menunggu, Menunggu kepastian. Kepastian yang sangat penting bagi kami, masa depan kami, dan status sosial kami. Bagi ku kepastian ini lebih dari pada itu, kepastian ini akan mampu mengatasi derita jomblo ku soal ketertarikan wanita wanita pada ku, dengan kepastian ini aku yakin angka wanita yang menyukai ku akan naik drastis dari angka nol hingga terus menanjak ke angka yang fantastis. Yeaah.... Berakhir sudah penderitaan ku sebagai jomblo, semenjak sd, smp, sampai smk jika aku membayangkan aku ber seragam kan perusahaan ter nama di dunia per tambang an itu, wanita mana yang tidak ke pincut. "PT UNITED TRACTOR". Hmm jika kembali mengingat khayalan itu aku jadi merasa konyol, nyata nya hingga sampai saat ini masih di dera kejombloan.
Berbulan bulan menunggu kepastian tak kunjung datang. Kami (siswa smkn 2 yang lulus dalam tes recruitment karyawan PT United Tracktor) tak kunjung menerima kabar soal kapan kami akan memulai menjalani pendidikan kami di perusahaan itu, padahal tes sudah di lakukan beberapa bulan yang lalu. Pihak perusahaan mengatakan akan memberi kabar via telepon jika tahun ajaran pendidikan di perusahaan tersebut di mulai, tapi kapan kami tak tau. Kepastian ini membuat kami tak sabar, Saat teman teman ku telah aktif menjalani kuliah setelah penerimaan mahasiswa baru, Aku dan enam kawan ku justru mengganggur di rumah. Rasa bosan dan mulai tak percaya membuat ku dan jefry akan menanyakan langsung hal ini pada perusahaan, sebenarnya ini adalah inisiatif jefry, selain menanyakan hal itu Jefri juga akan menanyakan hal lain pada perusahaan, seolah ia merencanakan sesuatu secara terselubung atau sambil menyelam sambil minum air.
Aku merasa penasaran apa sebenarnya yang akan jefri pertanyakan selain dari permasalahan pokok kami. Namun saat di rumah ku ia memilih bungkam. Baiklah ayo kita tancap. Ia mengajak ku segera pergi ke United Tractors, lokasi perusahaan itu memang dekat dengan rumah ku, itu mengapa sebelum berangkat, di rumah ku kami melakukan pertemuan.
Tiba di depan pintu gerbang pos jaga perusahaan, se orang security menyambut kami. Pakaian kami compang camping, aku sendiri mengenakan sendal yang tak sepatutnya di kena kan saat akan memasuki ruang kantor perusahaan, security seolah tak percaya bahwa kami ber niat menemui ibu ermin bagian ke uangan, aku tak mengenal siapa pun selain beliau. Lantas setelah ibu ermin memberikan izin pada security melalui telepon nya security mempersilakan kami segera menemui beliau. Teguran security soal penampilan usang kami membuat nyali ku ciut, kami terduduk lama di pos security. Sejenak memulihkan puing puing nyali kami yang hancur berantakan.
jef soal selain tujuan pokok kita apa niat lain yang ingin kau lakukan? Jefri menatap ku, kami masih ter duduk di pos, dengan ragu ia berbicara. "Soal gigi ku ding gigi ku..." Gigimu? Kenapa?. Aku menatap gigi nya, ternyata terjadi ke hilangan disana. Telah lama ia mencemaskan gigi nya ia khawatir kalau kalau ia tak di terima di perusahaan ini karena gigi depan nya yang tanggal 3 biji. Apakah kau akan menanyakan soal gigi pada ibu ermin? Dengan sedikit takut dan pasti ia menjawab IYA. Aduhhaaayy aku tak habis pikir jika ia benar benar melakukan nya. Aku tepok jidat berkali kali. Kita tidak sedang masuk angkatan militer kau tak perlu khawatir, aku berharap ia membatal kan rencana terselubung nya itu. Tapi... Raut wajah nya masih ragu... Dalam benak ku jika soal gigi mu itu menjadi salah satu persyaratan sudah pasti kau tak akan lolos sampai tahap ini, tes kemarin saja kita melakukan interview face to face sudah pasti kau ter depak. Aku tak tahu pasti apakah ia benar benar akan membatalkan niat nya itu. Ku lolok kan mata ku, niat ku adalah mencari seseorang yang senasib dengan nya di perusahaan ini aku amati satu satu setiap orang melintas barang kali ada aku akan langsung menunjukkan pada nya bahwa tak perlu khawatir soal gigi. Aku tak menemukan seorang pun termasuk security mereka semua ber nasib baik. Aih sudah lah... Kami harus segera menemui ibu ermin.
Kami mengetok sebuah pintu yang kami yakini di balik pintu itu adalah meja ibu ermin. Dugaan kami tak salah beliau berada tepat beberapa meter dari depan pintu. Dengan lugu, khawatir akan penampilan kami, perlahan kami berjalan sedikit membungkuk dan menurunkan salah satu tangan kami, menebar senyum yang sedikit di paksa ke kanan kiri ke meja meja karyawan lain. Ibu ermin tersenyum, mempersilakan kami duduk. Hanya ada satu kursi. aku memilih berdiri. Langsung kami memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud kami soal kapan kami akan segera menjalani pendidikan. Dengan tenang ibu ermin menjawab persoalan kami, nampak nya Ibu ermin begitu memahami, sehingga jawab anya sekaligus memperbaiki psikolog kami akibat terlalu lama menganggur. Suasana canggung menjadi enjoy seketika, suasana ini yang akhirnya Jefri melakukan hal konyol, aku tak habis pikir ia akan melakukan nya, ia berkeluh kesah soal giginya yang tanggal tak hanya itu bahkan ia menceritakan pula sejarah nya.. Alamaaaaakkk... Aku merasa malu berdiri di sebelah nya, tak kuasa ingin menahan tawa, menahan sampai badan ku bergetar hebat. Sejarah pertama, adalah saat tendangan maut bersarang di mulut nya ketika ia bertanding karate, di sebutnya dengan detail mengakibatkan dua gigi nya tanggal. Sejarah ke dua ketika ia akan menghidupkan mesin diesel dengan cara meng engkolnya, pemutar dinamo yang terbuat dari besi terlontar dan menghantam gigi nya, satu lagi gigi nya tanggal. Jadi total nya tiga sembari ia menunjuk mulut nya bermaksud memberi tahu ibu ermin. Apakah hal ini tidak papa bu? Dengan polos ia bertanya. pertanyaan nya membuat ibu ermin mengerutkan dahi mungkin ia merasa ke heranan, bibir nya juga tak kuasa ingin tertawa sekalipun ia berusaha mencoba menghormati pembicaraan ini akhirnya beliau tertawa juga dengan mata ber kaca kaca, momen yang tepat untuk ku melepas tawa yang dari tadi tak kuasa ingin meledak ledak. Sementara wajah Jefri antara ingin menangis dan merasa takut, sejak awal mula nya sudah begitu sembari ia bercerita.
Komentar